Khutbah Jumat : Ramadhan Bulan Peningkatan Prestasi


RAMADHAN BULAN PENINGKATAN PRESTASI
Oleh: Dr. Muhammad Wakhid Musthofa, M.Si
(Bidang Pelatihan dan Dakwah, PW Ikadi DIY)

==============================


اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ: أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: ((يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ))


Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Salah satu kenikmatan terbesar yang saat ini kita terima adalah dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Ini adalah jawaban dari Allah atas doa-doa yang senantiasa kita panjatkan sejak beberapa bulan sebelumnya, yaitu agar kita dipanjangkan usia hingga dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Untuk itu, marilah kita maksimalkan usaha kita untuk mendapatkan kemuliaan dan keutamaan bulan yang mulia ini.

Sebagian besar umat Islam mengidentikkan bulan Ramadhan dengan bulan peningkatan ibadah yang bersifat ritual. Seperti memperbanyak melaksanakan shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir dan juga bersedekah. Peningkatan ibadah ritual ini terkadang diimplementasikan secara tidak tepat oleh sebagaian umat Islam dengan bentuk menghemat energi fisik saat berpuasa. Sehingga ketika di tengah hari berpuasa terkadang kita ingin santai dalam bekerja, tidak ingin melakukan sesuatu yang berat dan membutuhkan energi fisik yang besar. Jam kerja kantorpun juga dikurangi, sehingga karyawan bisa pulang lebih cepat. Demikian juga jam belajar di sekolah; juga dikurangi sehingga siswa bisa pulang lebih cepat. Seakan-akan puasa menghambat seorang muslim untuk bekerja dengan giat dan produktif. Bahkan ada ungkapan yang sering kita dengar bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Apakah benar puasa itu menghambat produktivitas kerja? Dan apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan ketika berpuasa beliau mengurangi aktifitas fisiknya dan cenderung untuk bersantai dan memperbanyak tidur di saat puasa? Jika kita mengkaji sirah Nabi dan sahabat, kita akan mendapatkan hal yang sebaliknya. Kewajiban puasa Ramadhan turun pada tahun kedua hijriyyah, dan mulai saat itulah Rasulullah dan para sahabat melaksanakan puasa Ramadhan. Yang menarik adalah bahwa pada bulan Ramadhan tahun kedua hijriyyah tersebut, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan, terjadi perang Badar al-Kubra, sebagai peperangan yang pertama antara umat Islam dan kaum kafir Quraisy. Jadi Allah mentakdirkan awal dimulainya kewajiban puasa Ramadhan bersamaan dengan awal terjadinya peperangan antara umat Islam dan kaum kafir Quraisy. Perang Badar merupakan perang eksistensi umat Islam pada waktu itu. Jika umat Islam kalah, maka sudah tidak ada lagi Islam di muka bumi ini. Sehingga pada waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa:

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ إِنْ تُهْلِكَ هَذِهِ اْلعِصَابَة، لَنْ تُعْبَدَ مِنْ بَعْدِهَا فِي اْلأَرْضِ أَبَداً. اَللَّهُمَّ أَنْجِزْ لَـنَا مَاوَعَدْتَنَـا، اَللَّهُمَّ نَصْرُكَ الْمُؤَزَّر، نَسْتَعِيْنُ بِكَ، وَنَتَوَكَّلْ عَلَيْكَ، حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْل، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْر، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باِللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ
“Ya Allah, sungguh jika Engkau hancurkan kelompok ini, maka setelah itu selamanya Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini. Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepada kami, cukuplah Allah sebaik-baik Dzat yang Maha Melindungi, sebaik-baik Penolong dan Pemberi kemenangan. Tiada daya dan kekuatan, kecuali milik Allah Dzat yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat mengisi hari-hari awal puasanya dengan sibuk berjihad fi sabilillah. Jumlah sahabat yang ikut berperang waktu itu hanyalah 314 orang. Berbeda jauh dengan kaum kafir Quraisy yang berjumlah sekitar 1000 orang. Dalam hal persenjataan dan perlengkapan perang pun juga tidak seimbang. Secara logika, mestinya pasukan kafir Quraisy-lah yang menang. Namun sejarah berkata bahwa kaum muslimin meraih kemenangan besar pada peperangan tersebut, dengan terbunuhnya pemimpin-pemimpin kafir Quraisy. Padahal mereka berperang dalam keadaan berpuasa, dan puasa tersebut adalah pengalaman pertama berpuasa bagi mereka.
Mengapa kaum muslimin bisa memenangkan peperangan tersebut, padahal mereka sedang dalam kondisi berpuasa? Bukankah kondisi fisik cenderung melemah ketika berpuasa? Ustadz Anis Matta dalam salah satu tulisannya menyebutkan bahwa justru puasa itulah yang menjadi sebab kemenangan kaum muslimin di lembah Badar. Karena kemenangan di alam nyata pasti selalu berawal dari kemenangan di alam jiwa. Kemenangan yang diperoleh dalam perang pasti berawal dari kemenangan ruhani mereka melawan hawa nafsu dan tarikan duniawi. Dialog antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan para sahabat sebelum perang Badar menunjukkan bahwa mereka sedang berada di puncak keimanan, jiwa-jiwa mereka sedang melanglang buana di langit keyakinan dan tawakkal, hasrat dan rindu mereka hanya terpaut ke surga.

Kepercayaan yang tidak terbatas kepada Allah Subhanahu wata'ala, tekad baja yang tidak terkalahkan dalam menegakkan kebenaran, keberanian yang tak pernah dapat disentuh oleh ketakutan, kerinduan pada surga yang tidak pernah dapat dihapuskan oleh fatamorgana dunia, itu semua yang memberi mereka energi perlawanan yang sangat dahsyat. Perang Badar bermula ketika Allah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mencegat kafilah dagang Abu Sufyan yang sedang dalam perjalanan pulang dari Syam ke Makkah. Mendengar akan dicegat oleh Rasul dan para sahabat, Abu Sufyan kemudian meminta bala bantuan dari Makkah. Maka berangkatlah dari Makkah 1000 pasukan perang yang lengkap dengan persenjataannya. Sehingga bukannya rombongan pedagang yang harus dihadapi Rasul, akan tetapi pasukan perang yang bersenjata lengkap. Hal ini menuntut Rasulullah untuk bermusyawarah dengan para sahabat akan apa yang sebaiknya mereka lakukan, apakah tetap menghadapi pasukan perang atau pulang kembali ke Madinah. Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu yang mewakili kaum Muhajirin berkata: "Ya Rasulullah, Kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan oleh bani Israel kepada Musa, “Pergilah kamu bersama Tuhanmu, kami duduk (menunggu) di sini”. Akan tetapi kami katakan “Pergilah bersama dengan keberkahan Allah dan kami akan bersama dengan mu!".

Rasulullah bergembira, tetapi beliau masih mau menunggu reaksi para sahabat dari kaum Anshar. Pemimpin besar sahabat Anshar, Sa'ad bin Muadh angkat bicara, "Ya Rasulullah mungkin yang engkau maksudkan adalah kami". Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya. Sa'ad kemudian menyampaikan pidatonya yang sangat indah, "Wahai utusan Allah, kami telah mempercayai bahwa engkau berkata benar, Kami telah memberikan kepadamu kesetiaan kami untuk mendengar dan taat kepadamu. Demi Allah, Dia yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau memasuki laut, kami akan ikut memasukinya bersamamu dan tidaka ada seorangpun dari kami yang akan tertinggal di belakang. Mudah-mudahan Allah akan menunjukkan kepadamu yang mana dari tindakan kami yang menyukakan mu. Maka majulah bersama-sama kami, letakkan kepercayaan kami di dalam keberkahan Allah".

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Kemenangan yang hakiki sesungguhnya terjadi pertama kali di alam jiwa, yakni ketika kepercayaan mengalahkan keraguan, harapan mengalahkan kecemasan, keberanian mengalahkan ketakutan, rindu kepada surga mengalahkan semua godaan dunia, tekad melumpuhkan kelemahan dan keterbatasan, dan kebesaran musuh berubah menjadi debu dalam pandangan jiwanya. Apakah yang menyebabkan kemenangan di alam jiwa? Itulah puasa. Itulah sebabnya mengapa Allah mentakdirkan perang Badar terjadi di bulan Ramadhan, disaat pertama kali kaum muslimin berpuasa. Karena puasa akan mengantarkan mereka menuju kemenangan jiwa, yang selanjutnya berbuah menjadi kemenangan nyata dalam peperangan.

Selian perang Badar yang terjadi pada bulan Ramadhan, pada tahun kelima hijriyah terjadi perang Khandaq yang persiapannya juga terjadi di bulan Ramadhan. Perang ini dinamakan Khandaq karena beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat membuat parit (khandaq) yang panjangnya tidak kurang dari 5 km, atau tepatnya 5.544 m. Rata-rata lebarnya 4,62 m dan rata-rata dalamnya 3,23 m. Semuanya dikerjakan secara manual dengan tangan dan perkakas seadanya. Penggalian parit itu dikerjakan dalam bulan Ramadhan yang mulia, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ikut juga secara fisik memecahkan batu cadas yang sangat keras di sekitar kota Madinah. Kalaulah mentalitas para sahabat di masa itu seperti sebagian umat Islam pada hari ini yang suka tidur di siang hari bulan Ramadhan, pastilah parit itu tidak akan selesai tepat pada waktunya.
Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Peristiwa peperangan yang terjadi di bulan Ramadhan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak kalah penting adalah pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah) yang terjadi pada hari Jumat tanggal 20 dan 21 bulan Ramadhan tahun kedelapan hijriyah. Fathu Makkah adalah momen penting dalam dakwah Islam, karena menjadi titik balik perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari yang sebelumnya lemah dan selalu terancam berbalik menjadi kuat dan bebas menyampaikan dakwah tanpa intimidasi dan ancaman. Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu sebagai panglima dengan kekuatan 10.000 pasukan bersenjata lengkap, mengepung kota Makkah dari empat penjuru mata angin. Mereka berkemah di bukit-bukit yang mengelilingi kota Makkah di malam hari dan menyalakan api unggun seakan-akan membuat pagar betis.

Peristiwa peperangan selanjutnya adalah perang Tabuk yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun kesembilan hijriyah. Perang ini sudah dimulai sejak bulan Rajab, namun karena perang ini menempuh jarak yang cukup jauh, maka perang ini memanjang waktunya hingga masuk ke bulan Ramadhan. Beban perang ini bertambah berat dikarenakan yang dihadapi bukan orang Arab melainkan 40.000 tentara Romawi yang terkenal sebagai ahli perang. Peperangan ini berlangsung di puncak musim panas, ketika orang-orang menghadapi kehidupan yang sangat sulit. Pada saat yang sama, buah-buahan di kota Madinah sudah mulai dapat dipanen. Perjalanan dalam perang ini sangat berat dirasakan oleh jiwa manusia. Perang ini juga merupakan ujian yang akan membedakan siapa yang di dalam hatinya ada kemunafikan dan siapa yang benar-benar beriman.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Demikianlah, diantara sembilan kali bulan Ramadhan yang dialami Rasulullah, empat diantaranya beliau isi dengan berperang di jalan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan tidak hanya identik dengan ibadah yang bersifat ritual, akan tetapi Ramadhan adalah bulan prestasi dakwah dan peningkatan produktifitas amal shalih bagi seorang mukmin. Untuk itu, marilah kita siapkan dan kita rencanakan amal dakwah apa yang akan kita lakukan di bulan yang mulia ini. Prestasi kerja apakah yang kita targetkan akan kita raih di bulan yang mulia ini. Semoga Allah subhanahu wata'ala memudahkan hal itu semua untuk kita. Amiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم



Khutbah Kedua:

الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرۡسَلَ رَسُولَهُ بِالۡهُدَىٰ وَدِيۡنِ الۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُ عَلَى الدِّيۡنِ كُلِّهِ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيۡدًا.
أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيۡكَ لَهُ، وَ أَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَ رَسُوۡلُهُ.
صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيۡهِ وَعَلَى اٰلِهِ وَ صَحۡبِهِ وَمَنۡ تَبِعَهُمۡ بِإِحۡسَانٍ إِلٰي يَوۡمِ الدِّيۡنِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوۡصِيۡكُمۡ وَنَفۡسِي بِتَقۡوَى اللّٰهِ تَعَالٰى فَقَدۡ فَازَ الۡمُتَّقُوۡنَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَاليٰ فِي الۡقُرۡاٰنِ الۡكَرِيۡمِ: ((يَٰٓأَ يُّهَا ٱلَّذِيۡنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوۡتُنَّ إِلَّا وَ أَنتُم مُّسۡلِمُون))
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم:
((إِنَّ ٱللَّهَ وَ مَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ، يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيۡهِ وَسَلِّمُوا تَسۡلِيمًا))
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيۡتَ عَلَى إِبۡرٰهِيۡمَ وعَلَى اٰلِ إِبۡرٰهِيۡمَ إِنَّكَ حَمِيۡدٌ مَجِيۡدٌ. وَبَارِكۡ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكۡتَ عَلَى إِبۡرٰهِيۡمَ وعَلَى اٰلِ إِبۡرٰهِيۡمَ، إِنَّكَ حَمِيۡدٌ مَجِيۡدٌ.
اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ لِلۡمُسۡلِمِيۡنَ وَالۡمُسۡلِمَاتِ، وَالۡمُؤۡمِنِيۡنَ وَالۡمُؤۡمِنَاتِ، الۡأَحۡيَآءِ مِنۡهُمۡ وَالۡأۡمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيۡعٌ قَرِيۡبٌ مُجِيۡبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَانِنَا الَّذِيۡنَ سَبَقُوۡنَا بِالۡإِيۡمَانِ، وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوۡبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيۡنَ آمَنُوۡا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوۡفٌ رَّحِيۡم.
رَبَّنَا ظَلَمۡنَا أَنۡفُسَنَا وَإِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُوۡنَنَّ مِنَ الۡخَاسِرِيۡنَ.
رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٍ وَاجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِيۡنَ إِمَامًا.
رَبَنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنۡيَا حَسَنَةً وَفِي الۡأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
سُبۡحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوۡنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الۡمُرۡسَلِينَ، وَالۡحَمۡدُ لِلّهِٰ رَبِّ الۡعَٰلَمِينَ، وَأَقِيۡمُوۡا الصَّلَاةَ...





GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : griyahilfaaz
💈Shopee : griyahilfaaz
💈Facebook: griyahilfaaz
💈Tokopedia: griyahilfaaz
💈Bukalapak: griyahilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART


EmoticonEmoticon