Khutbah Jumat : Bersama Orang-Orang Shalih


BERSAMA ORANG-ORANG SHALIH
Oleh: Ust. Dwi Budiyanto, M.Hum
(Kabid. Pelatihan dan Dakwah, PW IKADI DIY)

===============================

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ الْعَلِيِّ اْلأَعْلَى، الْكَامِلُ فِي أَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلْيَا.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاةَ مِنْ سُوْءِ الْمَأْوَى، وَنُؤَمِّلُ بِهَا الْفَوْزَ بِالنَّعِيْمِ الْمُقِيْمِ وَالدَّرَجَاتِ الْعُلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى، وَخَلِيْلُهُ الْـمُجْتَبَى.
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ النُّجَبَاء، وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا دَامَتِ اْلأَرْضُ وَالسَّمَاء، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا .
أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Derasnya arus informasi terkadang menggiring kita untuk masuk dalam kedangkalan sikap. Dengan gampang seseorang menebar kebencian, padahal kebencian itu ia tujukan kepada sesama Muslim. Inilah masa ketika tanpa sadar kita mudah menanggalkan iman sebagai pertimbangan dan sebagai gantinya berita-berita bohong dijadikan rujukan. Para salih dibenci seakan-akan tak ada kebaikan yang tersisa dalam dirinya. Para ulama dipersalahkan hanya karena pemberitaan yang belum jelas kebenarannya. Dalam keadaan demikian, seringkali kita salah dalam mengambil posisi. Sebagai seorang Muslim, berbaik sangka kepada sesama Muslim sangat diutamakan. Persahabatan di dalam keimanan, adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala.
“Tidak ada karunia Allah yang lebih baik bagi seseorang setelah ia masuk Islam,” kata Umar bin Khathab, “daripada memiliki saudara yang salih.” Ketika kita dikumpulkan bersama orang-orang salih, sesungguhnya itu merupakan karunia dari Allah yang tidak ternilai. Oleh sebab itu, Umar bin Khathab r.a. mewanti-wanti, “Jika di antara kalian ada yang merasa senang dengan saudaranya, hendaklah ia memegang saudaranya itu dengan kuat.”
Ketakwaan seseorang seringkali ditopang oleh persaudaraan dan persahabatan di antara sesama Muslim. Berteman dengan para salih itu menjaga keimanan dan ketakwaan kita pada Allah. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk bersama dengan para salih dan tidak malah mengambil sikap memusuhi mereka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu beserta orang-orang yang benar.” (Q.s. At-Taubah: 119).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikianlah antara iman, ketakwaan, dan kebersamaan dengan orang-orang salih bertautan sebagai penjaga keistiqamahan. Persaudaraan di dalam iman inilah yang akan selalu menyelamatkan. Dalam keadaan taat, saudara yang salih akan mendorong kita untuk beramal lebih baik lagi. Sementara itu dalam kondisi lalai, saudara kita akan mengingatkan kita agar terjauh dari kelesuan beramal. Tidak mengherankan jika Ibnu Rajab Al-Hanbali menyatakan, “Jika seorang Muslim melihat bahwa dalam diri saudaranya terdapat kekurangan dalam agama, ia berusaha untuk menasihatinya (membuat saudaranya menjadi lebih baik).”
Bahkan pada kenyataannya, sekedar berjumpa dengan orang-orang salih pun telah cukup mendekatkan kita pada ketaatan, apalagi sampai ber-mujalasah atau duduk-duduk bersama mereka; membaca ayat-ayat Allah serta merenungi petunjuk Rasulullah saw., tentu itu sangat menentramkan hati. Begitulah kebiasaan para salafus-shalih dahulu; mereka sangat menyukai bermujalasah bersama para salih.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ahmad bin Abi Al-Hawari Ad-Damsyiqi, salah seorang generasi tabi’in, terbiasa duduk-duduk menyambangi orang-orang salih saat ia merasakan kekeruhan di dalam hatinya. Itulah sebabnya, ia menasihatkan, “Jika engkau merasakan kekeruhan di dalam jiwa, maka duduklah bersama orang-orang yang berdzikir dan orang-orang yang zuhud.” Tidak jarang di antara mereka tanpa sungkan meminta nasihat kepada saudara seimannya. Jadi selain kebiasaan bermujalasah, ada kebiasaan lain di antara para salafus-shalih, yaitu meminta nasihat dari orang-orang salih. Maimun bin Mahran, misalnya, biasa pergi ke tempat guru generasi Tabi’in, Hasan al-Bashri rahimahullah untuk meminta nasihat. Ia akan mengetuk pintu rumah Hasan al-Bashri lalu mengutarakan maksud kedatangannya. “Wahai Abu Sa’id – panggilan Hasan al-Bashri, aku mulai merasakan kekasaran dalam hatiku. Bantulah aku untuk melembutkannya kembali.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Berkunjung dan bersilaturahmi kepada orang-orang salih patut untuk terus dihidupkan. Tentu yang dimaksud adalah kunjungan karena dorongan untuk menjadi lebih baik dalam urusan ketakwaan dan bukan karena kepentingan-kepentingan duniawi.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Tingkatkan ketakwaan kita pada Allah dengan memilih bersama dengan orang-orang salih. Jagalah lisan kita dari mencela dan menghujatnya. Jagalah hati dan pikiran kita dari berburuk sangka kepadanya. Jagalah sikap dan perilaku kita dari tindakan yang tak sopan terhadapnya. Tebarkan kasih sayang terhadap orang-orang beriman dan pada mereka yang salih, sebab begitulah sifat para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Q.s. Al-Fath: 29).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Jika menebar kebencian kepada sesama saja tak diperkenankan, maka membabar kebencian orang-orang salih lebih tak layak dilakukan. Pilih dan utamakan saudara Muslim kita dibandingkan yang lainnya. Inilah bentuk wala’ kita, rasa setia yang besar kepada sesama Muslim. Hari-hari ini, saat di beberapa daerah sedang dilaksanakan pemilihan kepala daerah, sungguh ini adalah ujian bagi kesetiaan kita pada sesama Muslim. Pilihlah pemimpin Muslim dan marilah kita senantiasa memohon agar Allah melimpahkan kebarakahan atas kepemimpinannya bagi negeri ini.
Kita berharap kesetiaan pada saudara Muslim itu akan mempertemukan kita kembali di jannah-Nya. Sebab, kata Ibnu Katsir, semua pertemanan dan persahabatan yang bukan karena Allah ta’ala akan menjadi permusuhan pada hari Kiamat, kecuali persahabatan yang dilandasi niat karena Allah ta’ala.

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. Az-Zuhruf [43]: 67).

Alangkah ruginya mereka yang mati-matian membela persahabatan yang bukan karena iman; di dunia tak dapat keuntungan, di akherat akan menjadi permusuhan. Di dunia tak membawa laba, di akhirat akan menjadi derita.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ النَّاسَ بِهَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
يَأَيـُّهَا الذين آمنوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ؛
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ  وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، ارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ




GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : griyahilfaaz
💈Shopee : griyahilfaaz
💈Facebook: griyahilfaaz
💈Tokopedia: griyahilfaaz
💈Bukalapak: griyahilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART


EmoticonEmoticon