Memaknai Tahun Baru Islam Tahun Hijriah



TAHUN BARU HIJRIAH.

Di masa pemerintahan Amirul-mukminin Umar Bin Khatab, beliau mengumpulkan kaum muslimin untuk diajak konsultasi tentang  dari manakah penanggalan itu dimulai ?

Ada yang berpendapat : Dimulai dari tanggal kelahiran Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.


Pendapat lain mengatakan : Dari hari diutusnya Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.

Ada pula yang mengatakan : Dari hijrah beliau –shallallahu alaihi wa sallam-.

Sebagian berpendapat : Dari wafat beliau –shallallahu alaihi wa sallam-.

Namun demikian, pendapat yang paling kuat menurut Umar Bin Khatab –radhiyallahu anhu– adalah “dimuali dari peristiwa hijrah Nabi”, yang merupakan peristiwa dimana Allah –Subhanahu wa Ta’ala– memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan, di samping peristiwa itu merupakan tonggak sejarah berdirinya Institusi yang Independen bagi umat Islam.

Makna Hijrah
Dan satu hal yang penting dalam hijrah adalah bahwa hijrah itu adalah bermakna luas, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang mulia bahwa:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ (رواه البخاري)
Artinya: ”Orang yang berhijrah itu adalah orang yang berhijrah, meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah” (HR. al-Bukhârî).

Hijrah di sini bermakna luas, meninggalkan adat atau tradisi fanatisme kesukuan, dan menegaskan hijrah itu meninggalkan dari segala yang dilarang oleh Allah dan yang di dalamnya membahayakan manusia.

Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diambil kesimpulan berkaitan dengan memuliakan bulan Muharram dan memperingati tahun baru Hijrah. Hijrahnya Rasul dari Makkah ke Madinah yang terjadi pada tahun 622 M., bukanlah sekadar peristiwa dalam sejarah Islam, tetapi banyak petuah dan pelajaran berharga bagi kita, Bahwa  dalam memuliakan dan memperingati tahun baru Hijriah harus memperhatikan hikmah atau pelajaran yang berharga dari peristiwa hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, yang dapat disebutkan dalam tujuh poin penting berikut ini:
Hijrah
-        Makan
-        Amal
-        Taubat
Pribadi, Keluarga,  Masyarakat

1. Hijrah itu adalah perpindahan dari keadaan yang kurang mendukung dakwah kepada keadaan yang mendukung.
2. Hijrah itu adalah perjuangan untuk suatu tujuan yang mulia, karenanya memerlukan kesabaran dan pengorbanan.
3. Hijrah itu adalah ibadah, karenanya motivasi atau niat adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan.
4. Hijrah itu harus untuk persatuan dan kesatuan, bukan perpecahan.
5. Hijrah itu adalah jalan untuk mencapai kemenangan.
6. Hijrah itu mendatangkan rezeki dan rahmat Allah.
7. Hijrah itu adalah teladan Nabi dan para sahabat yang mulia, yang seyogianya kita ikuti.
8. Hijrah adalah hidupnya semangat persaudaraan, persatuan dan kesatuan dalam bingkai ukhuwwah Islamiyyah.

KESALAHAN SURA
Setelah itu Umar Bin Khatab bermusyawarah dengan para sahabat lainnya tentang dari manakah tahun itu dimulai ?
Ada yang berpendapat, dari bulan Rabiul Awal, mengingat kedudukannya sebagai bulan di mana Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– berhijrah ke Madinah.

Ada yang mengatakan, di mulai dari bulan Ramadhan. Namun demikian akhirnya Umar Bin Khatab, Utsman Bin Afan dan Ali Bin Abi Thalib –radhiyallahu anhum ajmain- sepakat untuk memulainya dari bulan Muharam yang kemudian diterima oleh seluruh umat Islam secara aklamasi, mengingat kemuliaan bulan Muharam tersebut yang jatuh setelah bulan Dzul Hijah yang juga termasuk bulan mulia, dan letaknya pula setelah bulan di mana Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– membaiat kaum Anshar untuk berhijrah. Itulah sebabnya, bulan Muharam merupakan bulan yang paling berhak untuk diprioritaskan.

Ini menunjukkan betapa kecintaan beliau kepada Makkah dan penduduk Makkah, sebagaimana maqalah populer menyatakan hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah ekspresi kesempurnaan iman.

FENOMENA MASYARAKAT
1.      Penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan bubur Sura.
2.      Selain itu pada malam satu suro ribuan orang berbagai daerah naik ke puncak Gunung Lawu dengan beragam tujuan. Salah satunya sebagai bentuk lelaku. Mereka berkeyakinan, dengan naik ke puncak Pringgodani dan melakukan topo broto (menyepi) di puncak keinginannya bisa terkabul. Ngalap berkah agar terkabul usahanya lancar, naik pangkat dan jika berhasil mereka akan mengadakan selamatan.
3.      Malam Satu Suro adalah Lebarannya Makhluk Gaib
4.      Kembalinya Arwah Leluhur Ke Rumah
5.      Mereka meyakini bahwa Bulan Suro membawa sial. Menurut kepercayaan Hindu, dikisahkan Suro dikuasai Batara Kala. Suro adalah penguasa waktu yang menjalankan hukum karma atau sebab akibat. "Suro, dewanya Batara Kala, yang suka makan manusia, dalam arti nasibnya. Sehingga buruk nasibnya," kata Han Gagas. "Untuk itu, hal tersebut harus dihindari agar auranya menjadi baik," Berikut beberapa kegiatan yang pantang dilakukan di Bulan Suro, mengutip berbagai sumber:
-        Menyelenggarakan pesta pernikahan
-        Pindah rumah
-        Hajatan lain
-        Bepergian jauh

Perbuatan Syirik
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Beranggapan sial termasuk kesyirikan, beranggapan sial termasuk kesyirikan. (Beliau menyebutnya tiga kali, lalu beliau bersabda). Tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan bertawakkal.
Dalam hadits qudsi disebutkan,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim, no. 6000)

 Coba perhatikan dalam surat Yasin, Allah Ta’ala berfirman,

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19)

“Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 18-19)
Jelaslah bahwa mencela waktu adalah sesuatu yang telarang, bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Kenapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dia-lah yang mengatur siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah ’Azza wa Jalla.

Muharam Bulan Istimewa

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” [Quran At-Taubah: 36].

ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya Allah mengistimewakan empat bulan dibanding bulan-bulan lainnya. Dia menjadikan empat bulan itu menjadi bulan haram. Mengagungkan kehormatannya. Menjadikan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar. Dan amal kebajikannya mendapat pahala yang lebih besar pula.

Ini adalah bulan haram. Yang tentang kemuliaannya telah dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbah beliau di haji wada’. Beliau bersabda,

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُو الْقَعْدَةِ ، وَذُو الْحِجَّةِ ، وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبٌ ، شَهْرُ مُضَرَ ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.

“Sesungguhnya zaman ini telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram.

Tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab, (yaitu) bulan yang dikenal oleh (suku) Mudhar yang berada diantara bulan Jumada (Akhir) dan bulan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jadi, bulan Muharam ini telah Allah muliakan dan agungkan. Bahkan ia sebut bulan ini dengan disandarkan pada namanya, syahrullah al-Muharram (bulan Allah al-Muharram). Orang-orang Arab jahiliyah pun mengagungkan bulan ini. Mereka namakan bulan ini dengan Syahrullah al-Asham. Sebagai bentuk betapa mereka memuliakan dan mengagungkannya.

Mengapa hari Asyura disebut dengan Asyura (sepuluh)? Badaruddin al-‘Aini dalam kitab Umdatul Qari’ Syarah Shahih Bukhari, juz 11, halaman 117, beliau menjelaskan sebuah pendapat bahwa di hari ‘Asyura Allah memberikan kemuliaan dan kehormatan kepada sepuluh nabi-Nya. Yaitu (1) kemenangan Nabi Musa atas Fir’aun, (2) pendaratan kapal Nabi Nuh, (3) keselamatan Nabi Yunus dengan keluar dari perut ikan, (4) ampunan Allah untuk Nabi Adam AS, (5) keselamatan Nabi Yusuf dengan keluar dari sumur pembuangan, (6) kelahiran Nabi Isa AS, (7) ampunan Allah untuk Nabi Dawud, (8) kelahiran Nabi Ibrahim AS, (9) Nabi Ya’qub dapat kembali melihat, dan (10) ampunan Allah untuk Nabi Muhammad , baik kesalahan yang telah lampau maupun yang akan datang.

Banyak hal yang menunjukkan kemuliaan atau keutamaan bulan ini. Di antaranya, yaitu :
1. Dilarangnya seseorang melakukan kezhaliman pada bulan tersebut.

Hal ini seperti ditunjukkan oleh zhahir ayat, Allah berfirman, فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ  (maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan tersebut). Namun, -kaum muslimin rahimakumullah– hal ini tidak berarti bahwa kezhaliman boleh dilakukan pada bulan-bulan lainnya.
2. Pahala amal sholeh lebih besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Dan demikian pula Dosa yang dilakukan pada bulan tersebut.

Inilah penafsiran al Hafizh Ibnu Katsir –semoga Allah merahmatinya- terhadap firman Allah ta’ala, Surat at taubah ayat 36 di atas. Beliau –rahimahullah– mengatakan, “Di bulan-bulan yang Allah tetapkan di dalam setahun kemudian Allah khususkan dari bulan-bulan tersebut empat bulan, yang Allah menjadikan sebagai bulan-bulan yang mulia dan mengagungkan kemuliaannya, dan menetapkan perbuatan dosa di dalamnya sangat besar, begitu pula dengan amal shalih pahalanya begitu besar.”
3. Puasa di bulan ini merupakan puasa yang paling utama setelah puasa di Bulan Ramadhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

« أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ »

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (puasa di) bulan Allah al-Muharram. Dan sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam.” (HR. Muslim).
4. Penyandaran bulan ini kepada Allah, dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ (bulan Allah Al-Muharram).

Ibnu Rojab al-Hambali mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut Muharram dengan “Syahrullah” (Bulan Allah). Penyandaran bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya.
5. Terdapat hari khusus (yaitu : hari ‘Asyura) yang bila mana seseorang berpuasa pada saat itu, maka kesalahan setahun sebelumnya terhapuskan.

Abu Qatadah Al-Anshari –radhiyallahu anhu– berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Ia (yakni : Puasa ‘Asyura) akan menghapus dosa-dosa sepanjang tahun yang telah berlalu.” (HR. Muslim no. 1162)
Adapun mengenai cara berpuasa ‘Asyura ada 3 cara -sebagaimana dijelaskan oleh para ulama-,
1. Hanya berpuasa tanggal 10
2. Berpuasa pada tanggal 9 dan 10
3. Berpuasa pada tanggal 9,10,11

Ketiga cara tersebut boleh dilakukan.
6. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencari keutamaannya dengan melakukan amal shaleh, di antaranya dengan berpuasa.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menjaga puasa pada hari ‘Asyura.
Ubaidillah bin Abu Yazid meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas ditanya tentang puasa ‘Asyuro. Beliau mejawab,
مَا عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَ يَوْمًا يَطْلُبُ فَضْلَهُ عَلَى الأَيَّامِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ
“Tidaklah aku mengetahui bahwa Rasulullah berpuasa pada suatu hari di mana beliau mencari keutamaannya atas hari-hari yang lainnya kecuali hari ini.” (HR. Muslim, no.2718).

Ibnu Abbas juga berkata,
ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضَّله على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء
“Tidaklah aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih menjaga puasa pada hari yang diutamakannya dari hari yang lain kecuali hari ini, yaitu ‘Asyura.” (HR. al Bukhori dan Muslim).
7. Pada bulan ini, terdapat suatu hari di mana terjadi peristiwa agung dan pertolongan yang nyata.

Allah menampakkan kebenaran atas kebatilan, di mana Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan Allah menenggelamkan Fir’aun berserta kaumnya.

Ibnu Abbas –radhiallahu anhuma– menuturkan :

أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatangi kota Madinah, lalu didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘Asyura. Maka beliau pun bertanya kepada mereka, “Hari apakah ini, hingga kalian berpuasa?” mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang agung, hari ketika Allah memenangkan Musa dan Kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun serta kaumnya. Karena itu, Musa puasa setiap hari itu untuk menyatakan syukur, maka kami pun melakukannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.” kemudian beliau pun berpuasa dan memerintahkan (para sahabat) agar berpuasa di hari itu. (HR. Al-Bukhari no. 3145, dan Muslim no. 1130). Dalam riwayat imam Ahmad bersumber dari Abu Hurairah terdapat tambahan, yaitu :

وهو اليوم الذي استوت فيه السفينة على الجودي فصامه نوح شكرا ً.

“Ia adalah hari di mana kapal (yakni : kapal Nabi Nuh) berlabuh di atas bukit Judi (yakni : suatu bukit yang terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia-ed), maka nabi Nuh berpuasa pada hari itu sebagai bentuk rasa syukur (kepada Allah).”



GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : griyahilfaaz
💈Shopee : griyahilfaaz
💈Facebook: griyahilfaaz
💈Tokopedia: griyahilfaaz
💈Bukalapak: griyahilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART


EmoticonEmoticon