Khutbah Idulfitri: Akhlak Mulia adalah Muara Semua Ibadah




Khutbah Idulfitri: Akhlak Mulia adalah Muara Semua Ibadah


Khutbah Pertama

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الحمدُ

الحمدُ للهِ الذِي أتَمَّ لنَا شهرَ الصيامِ، وأعانَنَا فيهِ علَى القيامِ، وختَمَهُ لنَا بيومٍ هوَ مِنْ أجلِّ الأيامِ، ونَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، الواحدُ الأحدُ، الفرد الصمد، لم يلد ولم يولد، ولم يكن له كفوا أحد

ونَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا ونبيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ إلَى جميعِ الخلق من إنس وجن، بشيرا ونذيرا، وداعيا إلى الله بإذنه، وسراجا منيرا، صَلَّى اللهُ وسلَّمَ وبارَكَ عليهِ وعلَى آلِهِ الطيبين وأصحابِهِ الميامين، وأزواجه الطاهرات أمهات المؤمنين، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا .
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

Jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat nikmat dan kurnianya kita dapat berkumpul dan berhimpun di Masjid al-Jihad ini guna menunaikan shalat Idul Fitri 1439 H. Shalawat teriring salam kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW yang telah menuntun dan menunjukkan kita jalan hidup lurus serta akhlak yang mulia.


Jamaah Masjid al-Jihad yang dimuliakan Allah,

Pada hari ini, kita sama-sama berbahagia karena telah usai menunaikan sebulan penuh puasa. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadan kali ini diterima Allah SWT dan membekas ke dalam jiwa dan sanubari kita. Namun bagimanakah caranya agar ibadah tersebut membekas dan memberi dampak takwa sebagaimana dicanangkan Quran? Agar la’allakum tattaqun?

Perlu khatib tekankan di sini, pada hakikatnya semua kewajiban ibadah dalam Islam adalah sebuah ikhtiar untuk membantu kita mencapai derajat takwa—keinginan untuk hidup secara mulia di bawah kontrol dan pengawasan melekat Allah SWT.

Pada kesempatan ini, izinkah khatib untuk bertanya: adakah bentuk puasa yang justru tidak berbuah takwa dan sia-sia?
Ada, saudara-saudara! Kenapa? Karena dalam sebuah hadis dikemukakan bahwa Allah tidak akan segan-segan mengabaikan puasa seseorang bilamana ibadah tersebut justru tidak berdampak pada akhlak dan kepribadiannya. Marilah kita renungkan hadis riwayat Abu Hurairah berikut. Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang tidak mengucapkan selamat tinggal kepada ungkapan dusta (qaula al-zur)—atau yang pada zaman now bisa pula bermakna hoax, kabar palsu atau dusta—dan terus saja dia melakukannya, maka Allah tidak akan segan-segan untuk mengabaikan urusan makan-minum si pelakunya!”

عَنْ أبي هريرة رضي الله عنه أن النبيَّ صلى الله عليه وسلم قال: مَن لم يَدَعْ قول الزُّور والعملَ به والجهلَ، فليس للهِ حاجةٌ أن يَدَعَ طعامه وشرابه رواه البخاري

Demikianlah saudara-saudara, hakikat ibadah; muaranya adalah pembentukan pribadi yang baik dan akhlak yang mulia. Bukan semata-mata berlapar-lapar dan berhaus-dahaga tanpa makna. Karena itu, Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin mengatakan bahwa hakikat puasa bukan sekadar imsak alias menahan atau mengontrol diri, tapi juga taqlil atau mempersedikit dan mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk sehari-hari. Misalnya mengurangi tingkat konsumsi makan minum yang menjadi sumber penyakit. Juga mengurangi nafsu angkara murka yang masih bersemayam di dada kita.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!

Jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah, tidak hanya puasa. Kewajiban shalat pun pada hakikatnya hendak bermuara pada akhlak mulia. Shalat sebagaimana sudah banyak kita tahu, hendak mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Itulah yang diungkapkan surat al-Ankabut ayat 45.

Seorang ulama Mesir bernama Muhammad al-Ghazali bahkan mengatakan, menjauhkan perbuatan yang keji dan membersihkan tutur kata dan tindak tanduk kita dari kemunkaran adalah hakikat daripada shalat! Bahkan saudara-saudara, dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah memaklumkan:

“Sesungguhnya Aku (hanya) menerima shalat mereka yang merendahkan hati demi meninggikan keagungan-Ku. Aku menerima shalat mereka yang tidak bersombong dan membagakkan diri kepada makhluk-Ku. Aku menerima shalat orang yang tidak berketerusan melakukan maksiat pada-Ku. Aku menerima shalat mereka yang mengisi hari-harinya dengan mengingat-Ku, juga menyayangi fakir miskin, ibnu sabil, para janda atau armalah. Juga menerima mereka yang merahmati orang-orang yang tertimpa musibah. Itulah shalat yang bercahaya selaiknya mentari. Itulah shalat yang naik dan tumbuh ke hadirat kebesaran-Ku. Shalat seperti itulah yang dijaga malaikat-Ku. Shalat yang akan mengubah kegelapan menjadi cahaya. Shalat yang mengubah kealpaan menjadi kelembutan. Perumpamaan shalat begini adalah bagai firdaus di antara surga-surga Allah.”

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللَّهُ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى: إِنَّمَا أَتَقَبَّلُ الصَّلاةَ مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعَظَمَتِي، وَلَمْ يَسْتَطِلْ عَلَى خَلْقِي، وَلَمْ يَبِتْ مُصِرًّا عَلَى مَعْصِيَتِي، وَقَطَعَ نَهَارَهُ فِي ذِكْرِي وَرَحِمَ الْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالأَرْمَلَةَ، وَرَحِمَ الْمُصَابَ، ذَلِكَ نُورُهُ كَنُورِ الشَّمْسِ، أَكْلَؤُهُ بِعِزَّتِي، وَأَسْتَحْفِظُهُ مَلائِكَتِي، أَجْعَلُ لَهُ فِي الظُّلْمَةِ نُورًا، وَفِي الْجَهَالَةِ حِلْمًا، وَمَثَلُهُ فِي خَلْقِي كَمَثَلِ الْفِرْدَوْسِ فِي الْجَنَّةِ.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!

Jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah, hakikat zakat pun bermuara pada pensucian diri dan pembentukan perilaku mulia. Kita tahu, dalam at-Taubah 103 Allah berfirman: “Tariklah dari sebagian harta mereka barang sedekah yang akan membersihkan dan mensucikan diri mereka!”

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا

Bagaimana pula rupa zakat dan atau sedekah yang dapat membersihkan hati dan mensucikan jiwa bagi seorang muslim? Untuk mengetahuinya, kita dapat melihat beberapa penjabaran hadis Nabi yang memperluas makna sedekah. Misalnya, dalam al-Bukhari, Nabi bersabda bahwa senyum yang tersimpul di muka saudaramu adalah sedekah (tabassumuka fi wajhi akhika shadaqah!).

Mengajak berbuat baik dan meninggalkan kelakuan buruk adalah sedekah (wa amrukum al-maruf wa nahyukum anil munkar shadaqah!). Menunjukkan rute untuk orang yang tersesat jalan adalah sedekah! (wa irsyadukum al-rajula fi ardi al-dhalal shadaqah!). Menyingkirkan duri dan penghalang jalanan juga terhitung sedekah! Banyak lagi hadis-hadis yang senada dengan ini!

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!

Jamaah shalat id yang dimuliakan Allah. Apalagi? Haji! Di saat berhaji, kita tidak dibenarkan melakukan tindakan mesum (rafats) serta perilaku tercela (fusuq) seperti menyakiti orang lain, mendurhakai orangtua, memutus silaturrahmi, bergunjing dan bergosip-ria, ataupun tindakan tercela lainnya (al-Baqarah 197).

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ- البقرة 197

Jadi apa inti dari semua kewajiban ibadah yang kita lakukan siang dan malam itu saudara-saudara? Tiada lain dan tiada bukan adalah untuk membentuk perilaku terpuji atau akhlak yang mulia. Kembalinya kepada kita juga! Ini sejalan belaka dengan sabda Nabi Muhammad SAW tentang alasan dirinya diutus bagi umat manusia:

“Sesungguhnya, aku diutus tiada lain untuk menyempurnakan budi pekerti.”

Nah, sebagian umat manusia memang sudah mencapai derajat peradaban tinggi dan akhlak yang mulia ketika Nabi diutus. Namun beliau tetap diutus agar sempurna budi pekerti kita manusia. Supaya lebih mulia dan lebih paripurna!

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!

Karena itu, jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah, orang yang sudah pol sekalipun ibadahnya, namun tetap berperangai buruk; mencaci-maki ke sana ke mari, mengumpat si ani atau si anu, senantiasa membuat huru-hara dan angkara murka, maka kelak dia akan menghadap Allah dalam kerugian yang nyata. Dalam surat Thaha ayat 74-76 Allah menegaskan:

“Sesungguhnya, barangsiapa yang menghadap Tuhannya sebagai terpidana (berlumuran dosa), maka dia akan dicampakkan ke dalam jahanam neraka. Tidak mati tidak pula hidup di dalamnya. Namun barangsiapa yang mendatangi Tuhannya dalam keadaan mukmin, dan, dan, banyak pula mengerjakan kebajikan, baginya derajat yang utama, VVIP. Yaitu surga eden yang mengalir di bawahnya sungai. Kekal mereka di sana, dan itulah imbalan bagi mereka yang mensucikan diri dengan akhlak yang mulia (tazakka).”

إِنَّهُ مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلا يَحْيَا (-) وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلا (-) جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى (-)

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!

Karena itulah, saudara-saudara, jangan pernah sekali-kali meremehkan akhlak dalam tata cara kita beragama. Sekalipun kita telah mengerjakan amal ibadah bertumpuk-tumpuk, bila kita masih menyimpai perangai buruk, maka masih ada kemungkinan kondisi itu akan membuat kita bangkrut dan tetap terpuruk.
Banyak sekali hadis saudara-saudara, yang menekankan pentingnya akhlak mulia ini. Misalnya hadis Abu Hurairah tatkala Rasulullah bersabda,

“Demi Allah, tiada beriman! Demi Allah, tiada beriman! Demi Allah tiada beriman!” kata Rasulullah. “Siapa gerangan yang dikau maksud, wahai Rasulullah?” tanya sahabat. “Orang yang membuat tetangganya tidak aman dari kelakuannya!”

حديث أبي هريرة -رضي الله تعالى عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: والله لا يؤمن، والله لا يؤمن، والله لا يؤمن، قيل: من يا رسول الله؟ قال: الذي لا يأمن جاره بوائقه

Banyak lagi hadis-hadis yang senada ini. Dalam hadis Muslim misalnya, orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, seyogyanya berkata baik atau lebih baik diam saja (falyaqul khairan aw liyashmut!). Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaknya menghormati tamunya (falyukrim dhaifahu!). Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah menghormati tetangganya (falyukrim jarahu!).

رُويَ عن الإمام و مُسلِم رحمة الله عليهم أجمعين عن طريق أبي هريرة- رضي الله تعالى عنه، قال: روى عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه، ومن كان بالله واليوم الآخر فليكرم جاره

Bahkan saudara-saudara jamaah Masjid al-Jihad yang dimuliakan Allah, hadis Abu Hurairah juga menyebutkan bahwa orang yang rajin shalat, berpuasa dan bersedekah, namun tetap menyakiti tetangganya, dia akan tetap terancam dicampakkan ke dalam neraka. “Hiya fin naar!” kata Rasulullah.

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رجل: يا رسول الله إن فلانة تذكر من كثرة صلاتها وصيامها وصدقتها، غير أنها تؤذي جيرانها بلسانها. قال: هي في النار.

Sebaliknya, dan ini yang cukup mengejutkan, orang yang minimal saja puasanya, sedikit saja sedekahnya, yang wajib-wajib saja shalatnya, bersedekah pun hanya secuil keju (al-aqt), namun dia tidak menyakiti siapa-siapa, untuknya Rasulullah bersabda: “Dia di surga!”

قال: يا رسول الله! فإن فلانة تذكر قلة صيامها وصدقتها وصلاتها وإنها تصدق بالأثوار من الأقط ولا تؤذي بلسانها جيرانها قال: هي في الجنة. رواه أحمد والبيهقي في شعب الإيمان

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!

Jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah, kalau saya sebutkan keseluruhan hadis tentang pentingnya perilaku baik dan akhlak yang mulia, maka khutbah ini akan sangat panjang dan lebar. Cukuplah sebagai penutup saya cuplikkan kesaksian sahabat Nabi tentang seperti apa akhlak Rasulullah itu. Misalnya apa yang diungkapkan Anas bin Malik yang telah berkhidmat selama sembilan atau sepuluh tahun kepada Rasulullah.

“Demi Allah, kata Anas, dia tidak sekali pun berkata `cuih` (uffin) ataupun mencela sesuatu! ”

عن أنس بن مالك قال: خدمت رسول الله صلى الله عليه وسلم عشر سنين، والله ما قال لي أفا قط، ولا قال لشيء لم فعلت كذا، وهلا فعلت كذا. وفي رواية: ولا عاب علي شيئا. وفي رواية: تسع سنين. وفي رواية : كان رسول الله أحسن الناس خلقا.

Bahkan, kepada Aisyah istrinya, Rasulullah pernah bersabda:

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah maha lembut dan meyukai kelembutan. Dia akan memberi pada kelembutan apa yang tidak dia beri kepada kekerasan! (hadis riwayat Muslim).

عن عائشة رضى الله عنها، أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: يا عائشة، إن الله رفيق يحب الرفق، و يعطي على الرفق ما لا يعطي على العنف، و ما لا يعطي على ما سواه
رواه مسلم

Karena itu jamaah Masjid al-Jihad yang dimuliakan Allah, tepat sekali ketika dalam surat al-Ahzab ayat 21 Allah menganjurkan kita untuk berteladan kepada akhlak mulia Rasulullah.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ

نفعني الله وإياكم بالقرآن الكريم وبهدي سيد المرسلين، أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.


Khutbah Kedua

الله أكبر سبعاً
الله أكبر كبيراً ، والحمد لله بكرة وأصيلاً .
الحمد لله الذي استحمد بفضله، ورضي الحمد شكرا من خلقه، أحمده وأستعينه وأؤمن به وأتوكل عليه، وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، وبعد

Jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah,

Dewasa ini, kita sering kali menyaksikan pengajaran dan perilaku beragama yang alpa dan lupa menekankan pentingnya akhlak mulia. Banyak dari kita yang lebih mementingkan akidah dan ataupun ibadah saja sembari mengabaikan pentingya pembentukan perilaku yang baik dan akhlak yang mulia. Kita mungkin sedang menghadapi krisis akhlak karena masyarakat juga dicontohkan dengan perilaku dan tindak-tanduk juru dakwah yang justru tidak terpuji.

Padahal, sungguh banyak petunjuk-petunjuk sejarah tentang keluhuran budi pekerti Rasulullah yang dapat kita teladani, baik tatkala beliau masih lemah ataup ketika telah berkuasa. Baik di masa damai maupun dalam kondisi perang. Dalam situasi normal maupun ekstrem. Mari sama-sama kita perdalam dan kita renungkan lagi. Beliaulah yang sebenar-benarnya teladan kita, bukan orang-orang yang mengaku keturunan Rasulullah atau menggebu-gebu mengajarkan kita untuk bermusuhan antara sesama!

Itulah khatib kira salah satu cara agar kita tidak menjadi orang-orang yang bangkrut dan terpuruk di akhirat kelak. Adakah dari umat Rasululah ini yang justru akan bangkrut di akhirat kelak? Ada, saudara-saudara! Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah bertanya:

“Maukah kalian tahu orang yang bangkrut (muflis)? Yang bangkrut dari umatku adalah yang menghadapi hari kiamat dengan berbekal shalat, puasa, zakat, tapi masih saja mencela ini, memaki itu, menyikat harta si bani, menumpahkan darah si anu atau memukul si banu. Akibatnya, kebaikan-kebaikan yang dia perbuat di dunia pun ikut menyusut dan terkorupsi. Tatkala kebaikannya telah menjadi nol, nihil, sirna, yang dihitung dan dilemparkan ke mukanya cuma catatan kejahatan. Hanyalah kejahatan! Kejahatan itulah yang membuatnya justru terlempar ke dalam neraka!”

عن أبو هريرة رضى الله عنه عن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: أتَدرونَ ما المُفلِسُ؟ إنَّ المُفلسَ من أُمَّتي مَن يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ، وزكاةٍ، ويأتي وقد شتَم هذا، وقذَفَ هذا، وأكلَ مالَ هذا، وسفكَ دمَ هذا، وضربَ هذا، فيُعْطَى هذا من حَسناتِه، وهذا من حسناتِه، فإن فَنِيَتْ حَسناتُه قبلَ أن يُقضَى ما عليهِ، أُخِذَ من خطاياهم، فطُرِحَتْ عليهِ، ثمَّ طُرِحَ في النَّارِ

Nauzubillah, nauzubillah, nauzubillah!

Jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah, kita tentu tidak ingin menjadi orang-orang bangkrut sebagaimana disinggung di dalam hadis tadi. Karena itu, sudah selaiknya kita menghiasi perilaku kita dengan akhlak yang mulia dan mengabdikan hidup untuk sebanyak mungkin berbuat baik kepada sesama. Itulah bekal yang sungguh-sungguh bernama takwa!

أسأل الله تعالى أن يجعلنا من المقبولين، وأن يختم لنا بخير وأن يجمعنا على خير، ثم صلوا وسلموا على خير الورى، فقد أمركم بذلك ربكم تبارك وتعالى

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليماً

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا وقدوتنا محمد بن عبد الله، وارض اللهم عن خلفائه الراشدين، وعن الصحابة والتابعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، وعنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين.

اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا، ولا تجعل الدنيا أكبر همنا ولا مبلغ علمنا ولا تجعل مصيبتنا في ديننا، وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا، وآمنا في أوطاننا ، واشف مرضانا ، وارحم موتانا، وبلغنا مما يرضيك آمالنا، واختم بالباقيات الصالحات أعمالنا

اللهم إنا نسألك خير المسألة، وخير الدعاء، وخير النجاح، وخير العمل، وخير الثواب، وخير الحياة، وخير الممات، وثبتنا وثقل موازيننا، وحقق إيماننا، وارفع درجاتنا، وتقبل صلاتنا وصيامنا، واغفر خطيئاتنا، ونسألك الدرجات العلى من الجنة .
اللهم إنا نسألك فواتح الخير، وخواتمه، وجوامعه وأوله وآخره، وظاهره، وباطنه

اللهم إنا نسألك أن ترفع ذكرنا، وتضع وزرنا، وتصلح أمرنا، وتطهر قلوبنا، وتحصن فروجنا، وتنور قلوبنا، وتغفر لنا ذنوبنا، ونسألك الدرجات العلى من الجنة

وتقبل الله طاعتكم، وكل عام وأنتم بخير، وأدام الله أفراحكم في دياركم العامرة، والحمد لله رب العالمين .

BincangSyariah.Com



GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART


EmoticonEmoticon