Khutbah : Mimpi, Jenis Mimpi dan Adab-adab bila Muslim Bermimpi



Mimpi, Jenis Mimpi dan Adab-adab bila Muslim Bermimpi


Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.


Saudaraku yang dicintai Allah,
Bagian dari kesempurnaan syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengajarkan semua hal penting dalam kehidupan manusia. Hanya saja, ada orang yang berusaha memahaminya dan ada yang melupakannya. Seseorang akan bisa merasakan dan meyakini betapa sempurnanya Islam, ketika dia memahami aturan syariat yang demikian luas. Di saat itulah, seorang muslim akan semakin yakin dengan agamanya. Diantaranya petunjuk tentang mimpi.

Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat. Seorang manusia hampir-hampir tidak terlepas dari mimpi yang ia saksikan dalam tidurnya. Islam pun telah mensyari’atkan adab-adab yang berkaitan dengan mimpi. Ini merupakan bukti agung yang menunjukkan bahwasanya Islam adalah agama yang meliputi seluruh perkara agama dan dunia. Apakah mimpi itu baik ataupun buruk, selayaknya seorang Mukmin beradab dengan adab-adabnya. Meskipun Islam tidak mengajarkan umatnya tentang takwil mimpi yang mereka alami, namun rambu-rambu yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat memadai untuk menjadi panduan dalam mensikapi mimpi. Tak terkecuali, mimpi buruk.

Saudaraku yang dicintai Allah,
Sumber mimpi tidak selamanya datang dari Allah. Bisa juga karena bawaan perasaan atau permainan setan. Disebutkan dalam hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الرُّؤْيَا ثَلَاثٌ، فَرُؤْيَا حَقٌّ، وَرُؤْيَا يُحَدِّثُ بِهَا الرَّجُلُ نَفْسَهُ، وَرُؤْيَا تَحْزِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ فَمَنْ رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ
“Mimpi itu ada tiga: mimpi yang benar, mimpi bisikan perasaan, dan mimpi ditakut-takuti setan. Barangsiapa bermimpi yang tidak disukainya (mimpi buruk), hendaklah dia melaksanakan shalat.” (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani)

1. Mimpi yang kosong (adhghatsul ahlam)
Mimpi ini dilihat oleh seseorang dalam tidurnya sebagai cermin dari keinginannya atau apa yang terjadi pada dirinya dalam hidupnya. Kebanyakan orang bermimpi sesuatu yang menjadi bisikan hatinya, yang memenuhi pikirannya ketika terjaga, dan sesuatu yang berlangsung pada dirinya saat terjaga. Mimpi yang seperti ini tidak ada hukumnya.

2. Mimpi dari setan (al-hulm)
Setan mendatangi seseorang di dalam mimpi lalu mengatakan ini dan itu, atau menampakkan ini dan itu. Setan bermaksud menakut-nakuti seseorang dengan mimipi ini. Setan dapat menggambarkan dalam tidur seseorang tentang urusan yang menakutkannya, baik yang berkaitan dengan diri, harta, keluarga, maupun masyarakatnya. Mimpi seperti ini biasanya dialami oleh seseorang yang tidur tanpa mengucapkan wirid-wirid yang diajarkan Rasulullah n. Ia tidak membaca Ayat Kursi saat hendak tidur. Tidak pula ia membaca surah al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq serta an-Nas). Setan pun datang dalam mimpinya.
Demikianlah perbuatan setan yang gemar membuat sedih orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah l:
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu dari setan, dengan tujuan agar orang-orang beriman itu bersedih hati….” (al-Mujadilah: 10)

3. Mimpi yang benar (ar-ru’ya ash-shalihah)
Mimpi ini dijalankan melalui tangan malaikat. Dalam mimpi ini tidak ada penyesatan, hanya kebaikan. Mimpi inilah yang dikatakan dalam hadits Rasulullah n:
رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ
Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian nubuwwah/kenabian. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Mimpi ini termasuk kabar gembira dan biasanya hanya dialami oleh orang-orang yang beriman, walaupun kadang terjadi pada orang kafir karena suatu hikmah yang Allah SWT kehendaki, seperti mimpi raja dalam kisah Nabi Yusuf AS. Raja tersebut kafir, namun ia bermimpi dengan mimpi yang benar

Saudaraku yang dicintai Allah,
Mimpi yang baik adalah mimpi yang berasal dari Allah Swt, dan umumnya berupa sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan atau memberikan harapan positif dalam hidupnya. Sedangkan mimpi yang buruk adalah mimpi yang berasal dari godaan dan gangguan syaitan, serta umumnya berupa sesuatu yang menakutkan, menyeramkan, duka, dan segala hal buruk lainnya. Bagaimana adab yang berkaitan dengan mimpi yang baik

1. Memuji Allah Ta’ala
Rasulullah saw. bersabda:
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ الرُّؤْيَا يُحِبُّهَا فَإِنَّهَا مِنْ اللَّهِ فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ عَلَيْهَا وَلْيُحَدِّثْ بِهَا وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ فَإِنَّمَا هِيَ مِنْ الشَّيْطَانِ
"Jika salah seorang diantara kalian bermimpi sesuatu yang ia sukai, sesungguhnya itu berasal dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah dan menceritakan mimpi tersebut. Adapun jika ia bermimpi yang selain itu, yang tidak ia sukai, maka itu berasal dari syaitan." [H.R. Bukhari (6985) dari Abu Sa'id r.a.]
2. Bergembira dengan Mimpi Baik

3. Tidak Mencerikatan Mimpi Baik kecuali kepada Orang yang Menyukainya
Nabi saw. memberi petunjuk:
"Mimpi yang baik berasal dari Allah dan mimpi yang buruk berasal dari syaitan. Barangsiapa melihat mimpi buruk, hendaklah ia meludah ke kiri dan meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan. Niscaya (dengannya) mimpi buruk itu tidak akan memudharatkannya. Janganlah ia memceritakan mimpi itu kepada siapapun. Jika ia melihat mimpi yang baik, hendaklah ia bergembira dan janganlah menceritakannya kecuali kepada orang yang menyukai dirinya." [H.R. Muslim  dari Abu Qatadah r.a.].

4. Menafsirkan Mimpi Baik dengan Sebaik-Baik Penafsiran.
Menafsirkan mimpi dengan sebenar-benarnya akan melapangkan dada orang yang bermimpi, Seorang Muslim dituntut untuk berharap baik dan berbaik sangka kepada Allah Ta'ala dalam setiap keadaan. Adapun penafsiran yang baik akan mendukung hal itu.

Saudaraku yang dicintai Allah,
Tetapi terkadang kita tidak hanya mimpi yang baik saja, terkadang kita mengalami mimpi yang buruk juga. Mimpi buruk termasuk salah satu permainan setan kepada bani Adam. Mereka ingin menakut-nakuti manusia. Apabila seseorang mengalami mimpi buruk, misalnya ia bermimpi mengalami kecelakaan, musibah, bertemu makhluk menyeramkan, kehilangan anggota keluarga, dsb maka anjuran Rasulullah Saw adalah:

1. Meludah ke Kiri Tiga kali.
Ini dimaksudkan untuk mengusir syaitan karna mimpi tersebut berasal darinya.
Juga sabda Rasulullah saw.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الرُّؤْيَا مِنْ اللَّهِ وَالْحُلْمُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ثَلَاثًا وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ

Mimpi itu dari Allah, & ihtilam (mimpi basah) itu dari syetan. Maka jika seseorang dari kalian bermimpi sesuatu yg di bencinya, hendaknya ia meludah ke sisi kirinya tiga kali, & berlindung kepada Allah dari godaan syetan (membaca ta'awudz) tiga kali, serta merubah posisi badanya (dari posisi semula tidurnya) saat itu. [HR. ibnumajah No.3899].tiga kali, dan mengubah posisi tidurnya dari posisi semula." [. [HR. ibnumajah No.3898].].

2. Berlindung kepada Allah dari Syaitan yang Terkutuk
Yakni membaca ta'awudz, lafadnya: أعود بالله من السيطن الرجيم (A'uudzu billaahi minasy-Syaithaanirrajiim)  "Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk." Lalu diikuti membaca surat mu'awidzatain (Al Falaq dan Annas).

3. Mengubah Posisi Tidur dari Posisi Semula
Ketika syaitan mendatangi manusia, ia pun menghembuskan mimpi itu, sementara orang itu sedang berada pada posisi tersebut. Maka dari itu, sebaiknya mengubah posisi semula ke posisi yang lain. Mudah-mudahan perbuatan itu dapat mengusir syaitan.

4. Memohon kepada Allah kebaikan Mimpi Buruk dan Berlindung kepada Allah dari Keburukannya
Kadang-kadang mimpi itu zhahirnya jelek, tetapi pada hakikatnya baik. Rasulullah saw. bersabda:
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَتَحَوَّلْ وَلْيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْأَلْ اللَّهَ مِنْ خَيْرِهَا وَلْيَتَعَوَّذْ مِنْ شَرِّهَا
"Jika salah seorang dari kalian mimpi yang tidak ia suka, hendaklah ia mengubah posisi tidurnya, meludah ke kiri tiga kali, memohon kepada Allah kebaikan mimpi itu, dan berlindung kepada Allah dari keburukannya." [H.R. Ibnu Majah (3910) dari Abu Hurairah r.a.].

5. Bangun dan Mengerjakan Shalat Dua Raka’at
Hadits dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ تَكْذِبُ وَأَصْدَقُكُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُكُمْ حَدِيثًا وَرُؤْيَا الْمُسْلِمِ جُزْءٌ مِنْ خَمْسٍ وَأَرْبَظِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ وَالرُّؤْيَا ثَلاَثَةٌ فَرُؤْيَا الصَّالِحَةِ بُشْرَى مِنَ اللَّهِ وَرُؤْيَا تَحْزِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ وَرُؤْيَا مِمَّا يُحَدِّثُ الْمَرْءُ نَفْسَهُ فَإِنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا النَّاسَ

Dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Jika telah dekat zamannya, hampir-hampir mimpi seorang muslim itu didustakan. Yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang muslim merupakan satu dari 45 bagian tanda kenabian. Mimpi ada tiga jenis, [1] mimpi yang benar merupakan kabar gembira dari Allah, [2] mimpi yang membuat sedih berasal dari syaithon, [3] mimpi yang di dalamnya seseorang menceritakan dirinya sendiri. Jika salah seorang dari kalian melihat dalam mimpinya hal yang dia benci maka hendaklah dia berdiri untuk mengerjakan sholat dan janganlah dia menceritakannya kepada orang lain H.R. Muslim (2262) dari jabir r.a.

6. Jangan Menafsirkan Mimpi Buruk
Nabi saw. melarang menafsirkan mimpi buruk, sebagaimana telah dijelaskan pada adab keempat .

7. Jangan Menceritakan Mimpi Buruk kepada Seorangpun
عَنْ جَابِرٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ فِى الْمَنَامِ كَأَنَّ رَأْسِى ضُرِبَ فَتَدَحْرَجَ فَاشْتَدَدْتُ عَلَى أَثَرِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلأَعْرَابِىِّ « لاَ تُحَدِّثِ النَّاسَ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِى مَنَامِكَ ». وَقَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدُ يَخْطُبُ فَقَالَ « لاَ يُحَدِّثَنَّ أَحَدُكُمْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِهِ فِى مَنَامِهِ .
Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, ada seorang Arab badui datang menemui Nabi kemudian bertanya, “Ya rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang tersebut, “Jangan kau ceritakan kepada orang lain ulah setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”. Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi menyampaikan dalam salah satu khutbahnya, “Janganlah kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan dirinya dalam alam mimpi” (HR Muslim)

Saudaraku yang dicintai Allah,
Sedangkan berkaitan dengan mimpi juga ada adab-adab lain yang berkaitan dengan mimpi

1. Tidak Menceritakan Mimpi kecuali kepada Seorang Ulama atau Penasihat.
Rasulullah saw. bersabda: "Janganlah menceritakan mimpi kecuali kepada seorang ulama atau orang yang bisa memberi nasihat." [H.R. Ad-Darimi (II/126), Tirmidzi (2280) dan ia mensahihkannya dari Abu Hurairah r.a.].

2. Tidak Terburu-buru Menafsirkan Mimpi
Rasulullah saw. bersabda:
الرُّؤْيَا عَلَى رِجْلِ طَائِرٍ مَا لَمْ تُعْبَرْ فَإِذَا عُبِرَتْ وَقَعَتْ قَالَ وَالرُّؤْيَا جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ قَالَ وَأَحْسِبُهُ قَالَ لَا يَقُصُّهَا إِلَّا عَلَى وَادٍّ أَوْ ذِي رَأْيٍ
"Mimpi itu berada di kaki burung selama tidak ditakwilkan. Maka jika ditakwilkan, niscaya ia akan jatuh (terjadi)." Beliau bersabda: "Janganlah menceritakan mimpi kecuali kepada orang yang menyukai dan bijaksana." [H.R. Abu Daud (5020) dan Ibnu Majah (3914) dari abu Razin.].

3. Tidak Berdusta dalam Menceritakan Mimpi
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ تَحَلَّمَ حُلُمًا كَاذِبًا كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ وَيُعَذَّبُ عَلَى ذَلِكَ
"Barangsiapa menceritakan mimpi yang  tidak ia lihat, niscaya ia akan dibebani untuk mengikat dua biji gandum dan ia tidak akan mampu melakukannya." [H.R. Bukhari (7042) dari Ibnu 'Abbas r.a.].

4. Janganlah Seorang Hamba Mengabarkan kepada Orang Lain Permainan Syaitan ataas Dirinya dalam Mimpi.
Nabi saw. bersabda:
إِذَا لَعِبَ الشَّيْطَانُ بِأَحَدِكُمْ فِي مَنَامِهِ فَلَا يُحَدِّثَنَّ بِهِ النَّاسَ
"Jika syaitan mempermainkan salah seorang dari kalian dalam mimpi, maka janganlah ia menceritakannya kepada seorang pun." [H.R. Muslim (2268) dari Jabir r.a.].

Beliau juga bersabda kepada seorang Arab badui yang bermimpi seakan-akan kepalanya terputus lalu mengggelinding dan ia mengikutinya: لَا يُخْبِرْ النَّاسَ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِهِ فِي الْمَنَامِ
 "Janganlah engkau menceritakan kepada seorangpun permainan syaitan atas dirimu dalam mimpi." [H.R. Muslim (2268) dari Jabir r.a.].

5. Barangsiapa Melihat Nabi saw. Maka Sungguh ia Telah Melihatnya.
Nabi saw. bersabda:
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ عَلَى صُورَتِي
"Barang siapa melihatku di dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku. Sesungguhnya syaitan tidak mampu menyerupai bentukku."

6. Hendaknya Orang yang Menafsirkan Mimpi Mengambil Faedah dari al-Qur’an dan as-Sunnah
Bahwasanya Nabi saw. telah menakwilkan susu dengan ilmu dan menakwilkan tali dengan keteguhan memegang agama dan lain sebagainya. Maka seharusnya seorang yang menjelaskan mimpi mengikuti Nabi saw. dalam hal ini semampunya. Demikian juga mengambil faedah dari apa yang disebutkan dalam kitabullah, berkaitan dengan takwil mimpi yang disebutkan dalam surah Yusuf.

Saudaraku yang dicintai Allah,
Demikian indah dan lengkapnya aturan Islam, hingga hal tentang mimpipun diatur dengan baik. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari risalah ini.
ُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Wallahu A'lam




EmoticonEmoticon