Kisah Puasa Si Badui dan Menteri Rauh bin Zinba’


Kisah Puasa Si Badui dan Menteri Rauh bin Zinba’


Kisah Puasa Si Badui dan Menteri Rauh bin Zinba’

SUATU hari, Rauh bin Zinba’ –salah satu wazir (mentri) Abdul Malik bin Marwan—menangis dengan cukup lama. Kronologinya demikian. Saat bersafar untuk keperluan ibadah haji, beliau singgah di suatu tempat oase yang terletak di antara Makkah dan Madinah.
Saat istirahat safar, beliau meminta pembantunya untuk menyiapkan bekal makanan yang sudah dibawa untuk keperluan perjalanan. Disediakanlah untuknya berbagai macam makanan untuk dimakan. Makanan itu dihidangkan di hadapan beliau dan siap untuk disantap.
Ketika sedang menyantap makanan, terlihat oleh beliau seorang Arab badui penggembala kambing sedang lewat di depannya. Dipanggillah penggembala itu untuk menikmati makan bersama-sama Rauh.
Si badui memenuhi panggilan Rauh bin Zinba’. Namun, setelah memperhatikan dengan saksama, dirinya menjawab, “Aku sedang berpuasa!” Mendengar jawaban itu Rauh terlihat heran sehingga menyodorkan pertanyaan, “Di hari sepanjang dan sepanas ini kamu tetap berpuasa?” Sang penggembala menjawab dengan mantap, “Apa aku akan mengelabui hari-hariku hanya untuk memakan makananmu?” artinya si penggembala sama sekali tak tergiur dengan tawaran. Ia tetap teguh menjalankan puasa.
Setelah memberi jawaban yang sedemikian meyakinkan, si badui mencari tempat singgah di sekitar lokasi yang sama. Ia meninggalkan lokasi Rauh bin Zinba’. Dalam kondisi demikian, Rauh bin Zinba’ –sebagaimana yang ditulis oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidaayah wa al-Nihaayah (9/67)—menyenandungkan untaian sya’ir:

لَقَدْ ضَنِنْتَ بِأَيَّامِكَ يَا رَاعِي * إِذْ جاد بها روح بن زنباع

“Wahai penggembala! Engkau begitu pelit dengan hari-harimu. Sementara Rauh bin Zinba’ dermawan dengan hari-harinya.”
Maksudnya, si penggembala begitu menjaga hari-harinya dengan hal bermanfaat. Sedangkan Rauh malah menghambur-hamburkannya.
Atas sebab itulah Rauh bin Zinba’ lama menangis. Kemudian makanan yang sudah disediakan disuruh diangkat kembali. Lantas Rauh menginggalkan lokasi, si penggembala terlihat begitu mantap hatinya sementara Rauh jiwanya merasa kecil.
Pertemuan dua insan yang berasal dari kalangan elite dan rakyat jelata ini begitu menarik untuk diambil pelajarannya. Puasa –bagi penggembala— adalah hal nikmat yang tidak bisa ditukar dengan iming-iming duniawi. Haus dan dahaga tidak membuatnya luluh untuk membatalkan puasa.
Baginya, mengisi hari-harinya dengan ibadah seperti puasa, lebih bermanfaat daripada memenuhi hajat perut yang sementara. Ia lebih memilih kepentingan akhirat daripada dunia. Sikap teguhnya ini rupanya membuat Rauh bin Zinba’ –sang menteri daulah Umayyah—terharu.
Begitu terharunya sehingga dirinya tak kuasa menahan tangis. Bayangkan! Dibanding dirinya yang merupakan orang elite dan hidup berkecukupan, apalah arti si penggembala miskin itu. Meski begitu, si penggembala seolah memberi pelajaran berharga kepada Rauh bin Zinba’. Dalam kondisi sesempit dan semelarat apapun, rupanya dia masih memprioritaskan akhirat daripada dunia; mengutamakan Allah daripada selainnya.

Mungkin hatinya terketuk. Semestinya dirinya yang berkecukupan bisa lebih gencar beribadah daripada si penggembala. Dalam bait syairnya dirinya mengaku bahwa si penggembala begitu pandai dalam mengisi hari-harinya. Sementara dirinya malah menghambur-hamburkan waktunya walau dengan sesuatu yang mubah.
Dari kisah ini, minimal ada tiga pelajaran berharga bagi pembaca: Pertama, orang berpuasa itu tidak gampang tergiur dengan iming-iming duniawi.
Kedua, orang yang mengisi hari-harinya dengan berpuasa berarti telah memanfaatkan waktunya dengan hal bermanfaat.
Ketiga, puasa menanamkan kesadaran internal pada jiwa hamba bahwa kepentingan Allah harus lebih diprioritaskan daripada kepentingan apapaun.
Sangat jelas dari gambaran puasa si badui, puasanya adalah ibadah yang tak sekadar menahan lapar dan haus. Meminjam istilah Imam Al-Ghazali, tingkatan puasanya sudah mencapai “Khawasu al-Khawas” (VVIP). Lalu, bagaimana dengan puasa kita?*
Mahmud Budi Setiawan


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Khutbah : Siapakah yang Akan Mendapatkan Ampunan di Bulan Ramadhan?




Siapakah yang Akan Mendapatkan Ampunan di Bulan Ramadhan?

 

 

 

(Ceramah Tarhib Ramadhan)
Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan.  Pada bulan ini dosa hamba-hamba Allah Ta’ala dipanaskan sehingga terbakar dan musnah. Riwayat dari Anas bin Malik menyebutkan tentang hal ini,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} قَالَ : إِنَّمَا سُمِّيَ رَمَضَانُ : لِأَنَّهُ يَرْمِضُ الذُّنُوبَ أَيْ : يَحْرِقُهَا وَيَذْهَبُ بِهَا

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya dinamakan (bulan) Ramadhan karena dia memanaskan  dosa-dosa’, yaitu membakarnya dan memusnahkannya.’” [1]
Allah Ta’ala karena kasih sayangnya memang selalu menyediakan kesempatan bagi hamba-hamba-Nya untuk selalu memperbaiki diri dan meraih maghfirah-Nya.

Khutbah : Gelora Amar Ma’ruf Nahi Munkar




Gelora Amar Ma’ruf Nahi Munkar


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)
Hadirin rahimakumullah…
Salah satu tolok ukur baiknya sebuah umat atau bangsa menurut Al-Qur’an adalah tegaknya fungsi kontrol; atau dalam bahasa agama disebut amar ma’ruf nahi munkar.

Khutbah : Mu’min yang Sebenarnya


Mu’min yang Sebenarnya


“يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَجْتَمِعُونَ فِي الْمَسَاجِدِ، لَيْسَ فِيهِمْ مُؤْمِنٌ “.

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, mereka berkumpul di masjid-masjid, dan tidak ada diantara mereka itu yang betul-betul beriman.” (HR. Al-Hakim, isnadnya shahih).
Hadirin rahimakumullah…hadits ini menjadi tadzkirah (peringatan) bagi kita yang hidup di akhir zaman agar selalu memeriksa kondisi keimanan. Hadits ini menegaskan pula bahwa keimanan yang benar itu tidaklah berhenti pada apa yang nampak secara lahir; seperti mengerjakan shalat, berkumpul di masjid, membaca dzikir, berthalabul ilmi, dll. Ia pun tidak berhenti pada pengakuan dan apa yang diucapkan oleh lisan.

Khutbah : Sebab-sebab Keterpurukan Umat Islam



Sebab-sebab Keterpurukan Umat Islam

(Khutbah Idul Fitri)
Hari ini kita berkumpul dalam keadaan suka cita, karena kita baru saja selesai melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Namun di balik rasa suka cita ini, sebetulnya kita pun sedang merasakan kesedihan dan keprihatinan yang mendalam, karena di beberapa negeri, sebagian saudara kita tengah beridul fitri dalam keadaan tertekan dan tertindas: di Palestina, Suriah, Cina, Rohingya, Pattani, dan lain-lain.
Bahkan saat ini secara umum, umat Islam sebenarnya sedang berada dalam kondisi terpuruk. Mereka termarjinalkan dalam berbagai aspek kehidupan: ekonomi, politik, sosial, pendidikan, budaya, dan lain-lain.
Dalam kondisi suka cita ini tidak ada salahnya jika kita bermuhasabah. Mari kita renungkan, apakah yang menyebabkan umat ini menjadi lemah dan terpuruk?
Allahu Akbar…Allahu Akbar…wa lillahil hamd…
Penyebab kelemahan dan keterpurukan umat Islam saat ini sekurang-kurang ada tiga:
Pertama, fenomena perpecahan (tafarruq). Umat Islam saat ini masih sering berselisih, berbantah-bantahan, saling curiga, saling mengintip kekurangan, dll, sehingga hilanglah wibawa dan kekuatan mereka.
Mari kita renungkan firman Allah Ta’ala berikut ini,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Anfal: 46).
Allahu Akbar…Allahu Akbar…wa lillahil hamd…
Hadirin rahimakumullah…
Islam mentolelir ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam perkara furu’ (cabang) yang bukan termasuk ushuluddin (pokok-pokok agama), tapi tidak mentolerir berpecahnya hati dan pertengkaran yang disebabkan masalah furu’(cabang) atau ikhtilaf itu. Karenanya, jangan sampai ikhtilaf (perbedaan pendapat) menyebabkan tafarruq (perpecahan). Karena tafarruq tidak akan menambah kepada umat ini, kecuali kelemahan.
Umat Islam harus bersatu-padu agar kembali menjadi kuat dan berwibawa,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. 3: 103).
Allahu Akbar…Allahu Akbar…wa lillahil hamd…
Hadirin rahimakumullah…
Selain faktor tafarruq (perpecahan), faktor penyebab umat ini menjadi lemah dan terpuruk adalah karena fenomena juz’iyyah (parsial dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam).
Sebagian umat ini ada yang  memahami bahwa Islam hanyalah sebatas ibadah ritual belaka, mereka lalu hanya fokus pada hal itu seraya menganggap tidak penting hal-hal lainnya. Padahal Islam itu memperhatikan seluruh aspek kehidupan secara seimbang dan proporsional: Islam memperhatikan aqidah, syariah, akhlak, ibadah, amar ma’ruf nahi munkar, pendidikan, politik, ekonomi; dunia, akhirat; lahir, batin; akal, jiwa, raga, dlsb.
Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaafah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithon, karena ia adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (2: 208).
Apa jadinya umat ini jika hanya fokus pada aspek ibadah ritual kemudian melupakan aspek ajaran Islam lainnya? Apa jadinya umat ini jika hanya fokus pada aspek masalah tazkiyatu nafs—wirid, dzikir, tilawah qur’an, shalat malam—tapi kemudian melupakan aspek ajaran Islam lainnya? Apa jadinya umat ini jika hanya fokus pada masalah ekonomi, politik,  amal sosial, dlsb. Padahal mereka memiliki tugas menjadi ibadullah dan khalifatullah sekaligus. Mereka memiliki kewajiban untuk melakukan ri’ayah (pemeliharaan) dan imarah (memakmurkan) terhadap muka bumi ini. Mereka harus menjadi ustadziyatul alam (guru bagi alam semesta).

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiya: 107)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruh-nya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Q.S. Saba: 28)
Akankah tugas besar dan mulia itu dapat terwujud jika umat ini memahami dan mengamalkan ajaran agamanya secara juz’iyah (parsial)? Tentu tidak…
Allahu Akbar…Allahu Akbar…wa lillahil hamd…
Hadirin rahimakumullah…
Selain faktor tafarruq (perpecahan) dan juz’iyyah (parsial dalam pemahaman dan pengamalan), faktor penyebab umat ini menjadi lemah dan terpuruk adalah fenomena tarkul jihad (meninggalkan jihad).
Jihad yang dimaksud disini adalah mencakup pengertian jihad secara luas: jihad qitali (perang), jihad ta’limi (menuntut ilmu), jihad tablighi (menyampaikan dakwah),  jihad iqtishadi (ekonomi), jihad siyasi (politik), jihad mali (harta), dll.
‘Jihad’ berasal dari kata ‘jahada’ artinya bersungguh-sungguh. Jihad adalah ciri orang yang beriman, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (49: 15)
Manakala kaum muslimin meninggalkan jihad,  jadilah mereka orang-orang yang lemah. Musuh-musuh tidak lagi gentar menghadapi mereka. Bahkan mereka berani menindas dan merampas kehormatan, kekayaan alam, dan apa saja yang dimiliki umat ini.
Meninggalkan jihad membuat umat ini seperti hidangan yang diperebutkan,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” Rasul bersabda,”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)
Allahu Akbar…Allahu Akbar…wa lillahil hamd…
Hadirin rahimakumullah…
Marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Jalinlah persatuan dan kesatuan serta rasa persaudaraan di antara kita. Mari kita tingkatkan interaksi kita dengan Al-Qur’an sehingga kita dapat terhindar dari pemahaman dan pengamalan agama yang parsial. Tumbuhkanlah mujahadah di dalam diri kita dalam mengarungi kehidupan ini. Berhati-hatilah dari tipu daya dunia yang akan melemahkan kita…
Allahu Akbar…Allahu Akbar…wa lillahil hamd…


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Khutbah : Jangan Kufur Nikmat!




Jangan Kufur Nikmat!

 

Hadirin rahimakumullah…
Pada 17 Agustus 1945 M, Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia memprolamasikan kemerdekaan Indonesia setelah lebih kurang 350 tahun lamanya hidup terjajah; sejak tahun 1602 dimana VOC sebuah perusahaan dagang Belanda melakukan monopoli perdagangan dan aktivitas kolonial; dilanjutkan dengan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang diterapkan oleh pemerintah Belanda sejak tahun 1830; hingga penjajahan Jepang yang berakhir tahun 1945.

Khutbah : Bersyukur dengan Bertaqwa


Bersyukur dengan Bertaqwa

Hadirin rahimakumullah…
Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Negeri yang subur dan makmur. Sehingga seniman ada yang mengatakan, “Orang bilang tanah kita tanah surga; tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman.”
Indonesia adalah negeri agraris dengan lahan produktif 12 juta hektar/tahun. Negeri maritim yang sangat luas, yakni 5,8 juta km2. Kekayaan hutannya melimpah. Kayu jati negeri ini disebut-sebut sebagai kayu terbaik di dunia. Barang tambang negeri ini begitu melimpah: minyak, batu bara, emas, dan lain-lain.
Namun pertanyaannya, “Apakah Indonesia negeri yang sejahtera?”
Ada begitu banyak ironi di negeri ini. Indonesia negeri agraris yang subur dan makmur, tapi ia termasuk pengimpor beras terbesar di dunia.Pertanian dan kekayaan maritim belum terkelola dengan baik. Banyak penduduknya yang miskin. Banyak pengangguran.
Hadirin rahimakumullah…
Saya mengajak kita semua untuk bercermin melihat diri. Jangan-jangan, krisis dan berbagai ketidakberesan ini terjadi adalah karena dosa kolektif yang kita lakukan kepada Allah Ta’ala? Renungkanlah firman-Nya berikut ini:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)
Dalam ayat ini Allah Ta’ala menegaskan, keingkaran suatu penduduk negeri kepada nikmat-nikmat Allah akan menyebabkan mereka tertimpa kelaparan dan rasa tidak aman.
Jadi, kemiskinan, kelaparan, dan krisis ketidakamanan yang kita rasakan saat ini bisa jadi disebabkan karena kufur nikmat! Naudzubillah…Mungkin disebabkan karena kita lebih banyak lalai dari mengingat Allah Sang Pemberi nikmat? Mungkin karena lisan-lisan kita jarang menyebut-nyebut nama-Nya? Mungkin karena anggota badan kita lebih banyak merasa malas beramal daripada taat kepada-Nya?
Karena seandainya kita benar-benar bersyukur kepada Allah, tidak mungkin Dia akan mencabut kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan-Nya kepada kita. Kalau kita sungguh-sungguh bersyukur, tidak mungkin Allah akan mencabut keberkahan dari kekayaan yang kita miliki,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“…dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7).
Maka, jika kita menghendaki kehidupan yang baik di dunia dan akhirat, mulailah dengan bersyukur kepada-Nya. Tunduk dan patuhlah kepada-Nya. Jauhilah segala larangan-Nya. Bertaqwalah kepada-Nya.
Sadarlah, ketika nikmat-nikmat Allah tidak disyukuri dan malah disambut dengan kemaksiatan dan hawa nafsu, maka kerusakanlah akibatnya…

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41).
Sementara itu jika kita menyambut nikmat-nikmat Allah Ta’ala itu dengan rasa syukur; menyambutnya dengan iman dan takwa, maka akan terbukalah keberkahan dari langit dan bumi,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96).
Hadirin rahimakumullah…
Ibnu Majah meriwayatkan hadits dengan sanad hasan dari jalur ‘Atha bin Abi Rabah dari Abdullah bin Umar r.a dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapkan wajahnya ke arah kami dan bersabda:

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ

“Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

Tidaklah kekejian/perzinaan menyebar di suatu kaum, hingga mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka.

وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan.

وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ

Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki.

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka.”
Hadirin rahimakumullah…
Marilah kita berusaha menjadi orang-orang yang bertaqwa dan bersyukur kepada-Nya agar terhindar dari marabahaya besar, di dunia dan akhirat.







GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Khutbah : Sekelumit Kisah di Hari Penghakiman



Sekelumit Kisah di Hari Penghakiman

 

Hadirin rahimakumullah…
Dalam hadits Nabi[1] shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa golongan manusia yang pertama kali akan dihakimi pada hari kiamat adalah:

Khutbah : Sekeluarga Menuju Surga




Sekeluarga Menuju Surga

Kaum muslimin rahimakumullah…
Saya awali khutbah ini dengan satu pertanyaan, inginkah Anda masuk surga bersama istri dan anak-anak Anda? Saya yakin, tidak ada seorangpun di antara kita yang tidak menginginkannya. Kita pasti sangat merindukan dan mencita-citakannya.
Di dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 20 – 24, Allah tabaraka wa ta’ala telah menyebutkan ciri orang-orang yang layak dimasukkan ke dalam surga-Nya bersama orang tua, istri, dan anak-anaknya.

Khutbah : Pernikahan dalam Bingkai Ibadah



Pernikahan dalam Bingkai Ibadah

Hadirin rahimakumullah…dan kedua mempelai yang berbahagia, perkenankanlah saya menyampaikan nasihat kepada Anda semua…
Bingkai Ibadah
Pertama-tama saya mengingatkan, bahwa tugas utama manusia di muka bumi ini adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata. Maka, seluruh gerak langkah hidup kita hendaknya tidak keluar dari bingkai tugas utama ini.

Khutbah : Mas’uliyah Seorang Ayah Kepada Anaknya




Mas’uliyah Seorang Ayah Kepada Anaknya


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim, 66: 6)
Hadirin Rahimakumullah…
Ayat ini mengingatkan kita, khususnya sebagai seorang Ayah, bahwa kita memiliki mas’uliyah (tanggung jawab) yang berat di hadapan Allah Ta’ala.  Yakni tanggung jawab untuk menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Menjaga diri, istri dan anak-anak kita agar tidak menjadi bahan bakar api neraka, na’udzubillahi min dzalik.

Khutbah : Mari Mengindahkan Shalat




Mari Mengindahkan Shalat


الم (١) ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣

 “Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. Al-Baqarah: 1 – 3)
Hadirin rahimakumullah…

Khutbah : Najwa yang Baik





Najwa yang Baik

 

 


لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

 “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Maka barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Q.S. An-Nisa: 114)

Khutbah : Ayo Perbanyak Istighfar!





Ayo Perbanyak Istighfar!

 

Tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak menghendaki kesejahteraan. Setiap kita pasti selalu mengharapkan agar kehidupannya penuh keberkahan, memiliki harta yang cukup, rizki yang melimpah serta dijauhkan dari rasa gundah dan kesempitan hidup.
Jawaban atas semua harapan itu diantaranya ada pada istighfar. Siapa saja yang hari-harinya dipenuhi dengan istighfar maka ia akan memperoleh kesejahteraan dari Allah Rabbul ‘Alamin…
Hal ini tergambar dalam seruan Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada umatnya yang dimuat di dalam Al-Qur’an,

Khutbah : Islam Agama yang Syamil





Islam Agama yang Syamil

 

Hadirin rahimakumullah…
Allah SWT berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (Q.S. Al-Maidah: 3)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah Ta’ala telah menyempurnakan syari’at agama-Nya. Maka cukuplah bagi kita menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dalam kehidupan.
Salah satu bukti kesempurnaan ajaran Islam adalah karakternya yang mencakup seluruh aspek kebajikan dalam kehidupan. Islam mengajarkan dan menghargai segala bentuk amal shalih; serta menempatkannya secara proporsional. Islam tidak mengajarkan sikap juz’iyyah (parsial) dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama. Islam tidak menghendaki sikap mengagung-agungkan sebuah amalan seraya meremehkan amalan yang lainnya.
Islam menghargai amalan jihad fi sabilillah; menghargai amalan shaum, shalat, dan shadaqah; sebagaimana Islam juga menghargai amalan mencari nafkah; menghargai amalan menegakkan ishlah (perdamaian); menghargai amalan amar ma’ruf nahi munkar; menghargai amalan ‘kecil’menyingkirkan gangguan di jalan.
Hadirin rahimakumullah…

Khutbah : 3 Wasiat Nabi dalam Habluminallah dan Habluminannas


3 Wasiat Nabi dalam Habluminallah dan Habluminannas


Pernahkah mendengar istilah Jawami’ul Kalim? Istilah tersebut memiliki makna: bahasa yang singkat, namun memiliki makna yang luas dan sangat mendalam. Hal inilah yang sering dijumpai dalam sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini merupakan salah satu hadits yang Jawami’ul Kalim,

Khutbah : Lima Hal Ini Diperintahkan Bersegera


Lima Hal Ini Diperintahkan Bersegera


Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan dalam kitab tafsirnya tentang ayat di atas, “Ini adalah perintah Allah kepada hamba-Nya yang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa. Ia diperintahkan untuk terus bertakwa dan istiqamah hingga maut menjemput. Karena ingatlah, man ‘aasyaa ‘alasy syai’, maata ‘alaih, artinya siapa yang hidup dalam suatu keadaan, maka ia akan mati dalam keadaan seperti itu pula.

Khutbah : Pengaruh Dosa dan Maksiat Terhadap Umat



Pengaruh Dosa dan Maksiat Terhadap Umat


Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Taala. Taatlah kepada-Nya, rasakanlah selalu pengawasan-Nya dan jangan durhaka kepada-Nya.

MAKSIAT adalah lawan dari taat, istiqomah dan taqwa. Sikap wara’ adalah berhati-hati dari berbuat ma’siat. Perbuatan maksiat sangat banyak ragam dan macamnya.
Melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wata’ala terhitung sebagai maksiat. Demikian pula meninggalkan perkara yang diperintah dan diwajibkan oleh Allah juga dianggap sebagai maksiat. Maka perbuatan dusta, ghibah, mengadu domba, mencuri, berzina, minum khomer, membunuh jiwa yang diharamkan Allah, sihir, makan riba, makan harta anak yatim, durhaka kepada kedua orang tua, berjudi dan lain sebagainya semua itu terhidtung sebagai perbuatan maksiat kepada Allah.

Khutbah : Ancaman Nabi SAW terhadap Pemimpin Zalim dan Para Pendukungnya



Ancaman Nabi SAW terhadap Pemimpin Zalim dan Para Pendukungnya

Mengatur kemaslahatan umat merupakan tanggung jawab terbesar seorang pemimpin. Kemakmuran atau kesengsaraan suatu masyarakat sangat tergantung pada peran yang ia mainkan. Ketika seorang pemimpin berlaku adil sesuai dengan petunjuk Syariat Islam maka masyarakat pun akan sejahtera. Demikian sebaliknya, ketika pemimpin tersebut berlaku zalim dan tidak jujur dalam menjalankan amanahnya maka rakyat pun akan berujung pada kesengsaraan.

Khutbah : Perbuatan Curang, Faktor dan Dampaknya


Perbuatan Curang, Faktor dan Dampaknya

Perbuatan curang dan khianat adalah fenomena negatif yang telah sangat akut dalam perilaku masyarakat kita dewasa ini. Hingga bagi sebagian orang yang lemah jiwanya dan ‘murah’ harga dirinya, perbuatan curang telah menjadi kebiasaan yang seolah bukan lagi dianggap perbuatan dosa. Hampir dalam semua bentuk interaksi yang dilakukan oleh mereka dengan orang lain, selalu saja dibumbui dengan kecurangan, kebohongan dan khianat. Padahal, jangankan agama, seluruh manusia yang lurus fitrahnya pun, mengatakan bahwa perbuatan itu jelas buruk dan tidak terpuji. Tentu perkara curang ini amatlah berat, mengingat terjemahan kata ‘thafif’ atau ‘muthaffif’ sendiri melingkupi kecurangan dalam jumlah yang sangat kecil sekalipun, “Sesungguhnya pelakunya disebut muthaffif karena dia nyaris tidak mencuri dari takaran dan timbangan kecuali hanya amat sedikit dan ringan.” ( Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 250; As-Samarqandi, Bahr al-‘Ulum, vol. 3, 556)

Khutbah : Lima Golongan yang Dikhawatirkan Su’ul Khatimah


Lima Golongan yang Dikhawatirkan Su’ul Khatimah


    قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالاً . الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah ‘Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini, padahal mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi A-Haddad dalam kitabnya berjudul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 56) menjelaskan tentang lima golongan orang yang dikhawatirkan meninggal dunia dalam keadaan su’ul khatimah sebagai berikut: