SAAT IBNU HAMBAL MENDIAMKAN IBNU MA'IN



SAAT IBNU HAMBAL MENDIAMKAN IBNU MA'IN
"Wahai Aba Abdillah, (kuniyah Imam Ahmad) Haruskah semua orang menjadi Ahmad bin Hambal?" tentu kalimat itu tidak asal melucur dari lisan seorang Ibnu Ma'in.
Satu kalimat yang sangat bernas dan sulit dibantah.
Namun lelaki yang diajak bicara itu tak kunjung merespon, bahkan menoleh pun tidak. Padahal yang sedang bicara adalah gurunya para ahli hadist di masanya, Yahya bin Ma'in ra. Bukan karena ia tidak menghormati Pakar Ilmu Rijal itu.
Pastilah Sang Imam memiliki alasan. Dan bisa jadi dia hanya sedang meneguhkan keyakinan dan tekadnya, tidak lebih.
Hingga ketika Yahya bin Main melanjutkan hujjahnya, Ahmad bin Hambal tetap menolak bicara:
"Siapakah diantara kita yang keimanan, ilmu dan taqwanya melebihi Ammar bin Yasir? Bukankah ia pernah mengucapkan satu kalimat kufur-karena terpaksa-namun Al Qur'an menyatakan bahwa tindakan Ammar itu bukan kekufuran;
Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar. [An Nahl: 106]. Lalu apa yang menghalangimu untuk mengatakan bahwa "Al Qur'an itu makhluk" sebagai siasat saja agar engkau selamat". Ujar Yahya bin Main, namun Ahmad bin Hambal hanya memandangnya dan tetap bungkam seribu bahasa.
Hujjah Yahya bin Ma'in sangat kuat, namun pendirian Ahmad bin Hambal jauh lebih kuat.
Jika Ibnu Ma'in memilih terpaksa mengucapkan kalimat itu, maka Ahmad bin Hambal memilih luka dan penjara. Ini bukan soal keberanian atau kepengecutan namun soal keteguhan dalam perjuangan.
بئس العيش أن يحي الجسد ويموت الدين
"Seburuk-buruk hidup adalah ketika jasad hidup sedangkan agama mati" Ucap Ahmad kepada murid-muridnya suatu ketika.
Inilah ketegaran saat ujian membadai. Inilah istiqomah saat dunia dipenuhi fitnah. Inilah prinsip saat semua ulama memilih berdamai dengan kedzaliman.
Dia juga tidak sedang menghasut pengikutnya untuk membelot kepada Khalifah. Namun sedang mengajarkan bagaimana seharusnya sikap ulama ditengah badai fitnah dan kerusakan aqidah?
Sebenarnya dia sedang mengajarkan bil haal (dengan tindakan) hadist Nabi saw yang berbunyi: "sebaik-baik jihad adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang dzalim". Bukankah sebaik-baik methode pengajaran adalah contoh dan keteladanan?
Demikian semestinya seorang ulama!

GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART


EmoticonEmoticon