SAAT IBNU HAMBAL MENDIAMKAN IBNU MA'IN



SAAT IBNU HAMBAL MENDIAMKAN IBNU MA'IN
"Wahai Aba Abdillah, (kuniyah Imam Ahmad) Haruskah semua orang menjadi Ahmad bin Hambal?" tentu kalimat itu tidak asal melucur dari lisan seorang Ibnu Ma'in.
Satu kalimat yang sangat bernas dan sulit dibantah.
Namun lelaki yang diajak bicara itu tak kunjung merespon, bahkan menoleh pun tidak. Padahal yang sedang bicara adalah gurunya para ahli hadist di masanya, Yahya bin Ma'in ra. Bukan karena ia tidak menghormati Pakar Ilmu Rijal itu.
Pastilah Sang Imam memiliki alasan. Dan bisa jadi dia hanya sedang meneguhkan keyakinan dan tekadnya, tidak lebih.
Hingga ketika Yahya bin Main melanjutkan hujjahnya, Ahmad bin Hambal tetap menolak bicara:
"Siapakah diantara kita yang keimanan, ilmu dan taqwanya melebihi Ammar bin Yasir? Bukankah ia pernah mengucapkan satu kalimat kufur-karena terpaksa-namun Al Qur'an menyatakan bahwa tindakan Ammar itu bukan kekufuran;
Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar. [An Nahl: 106]. Lalu apa yang menghalangimu untuk mengatakan bahwa "Al Qur'an itu makhluk" sebagai siasat saja agar engkau selamat". Ujar Yahya bin Main, namun Ahmad bin Hambal hanya memandangnya dan tetap bungkam seribu bahasa.
Hujjah Yahya bin Ma'in sangat kuat, namun pendirian Ahmad bin Hambal jauh lebih kuat.
Jika Ibnu Ma'in memilih terpaksa mengucapkan kalimat itu, maka Ahmad bin Hambal memilih luka dan penjara. Ini bukan soal keberanian atau kepengecutan namun soal keteguhan dalam perjuangan.
بئس العيش أن يحي الجسد ويموت الدين
"Seburuk-buruk hidup adalah ketika jasad hidup sedangkan agama mati" Ucap Ahmad kepada murid-muridnya suatu ketika.
Inilah ketegaran saat ujian membadai. Inilah istiqomah saat dunia dipenuhi fitnah. Inilah prinsip saat semua ulama memilih berdamai dengan kedzaliman.
Dia juga tidak sedang menghasut pengikutnya untuk membelot kepada Khalifah. Namun sedang mengajarkan bagaimana seharusnya sikap ulama ditengah badai fitnah dan kerusakan aqidah?
Sebenarnya dia sedang mengajarkan bil haal (dengan tindakan) hadist Nabi saw yang berbunyi: "sebaik-baik jihad adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang dzalim". Bukankah sebaik-baik methode pengajaran adalah contoh dan keteladanan?
Demikian semestinya seorang ulama!

GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Jangan Kau Tunda Kemenangan Dengan Maksiatmu


Jangan Kau Tunda Kemenangan Dengan Maksiatmu


An-Najah.net – Islam tidak mengkhawatirkan banyaknya musuh dan besarnya kekuatan musuh, ‎namun yang dikhawatirkan adalah Muslim itu sendiri ketika bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dalam sebuah perjuangan, di ‎anatara sebab tertundanya kemenangan adalah maksiat seorang hamba. Entah bermaksiat kepada Allah Ta’ala ‎atau maksiat kepada pimpinannya.‎

Hikmah Perang Uhud

Islam sama sekali tidak menghawatirkan banyaknya musuh dan besarnya senjata musuh. Islam ‎juga tidak begitu menghkawatirkan ancaman dan kecaman musuh. Justru yang dikhawatirkan ‎adalah ketika kita lalai dan bermaksiat kepada Allah Ta’ala. ‎

Saudaraku, bukankah empat belas abad yang lalu Rasulullah Saw sudah mengkhawatirkan umat ‎ini dikarenakan kaum muslimin waktu itu sangat banyak tapi mereka tidak berdaya karena di ‎dalam hati kaum muslimin terdapat penyakit wahn. Lantas apakah wahn itu, Rasulullah Saw ‎bersabda:‎
وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْت‎ ‎
‎(seseorang bertanya), “Apa itu ‘wahn’? “Rasulullah bersabda, “Cinta dunia dan takut ‎mati.”(HR. Abu Daud no. 4297)‎
Jika seorang Muslim sudah cinta dunia dan takut mati. Maka segala hal termasuk harta, tahta, ‎dan wanita yang berkaitan dengan dunia. Maka, dia berusaha meraihnya walaupun kemaksiatan ‎halangannya. Begitu pula seorang Muslim yang takut mati dikarenakan sedikitnya ilmu dan ‎jauhnya dari agama Islam. Dia akan menghalalkan segala cara bahkan berani menjual agamanya ‎dengan harga yang murah yang penting nyawanya selamat.‎

Saudaraku, masihkah kita ingat peristiwa perang Uhud, yang tadinya keunggulan dan ‎kemenangan berada di pihak Islam pada pagi harinya, tapi tatkala para pemanah bermaksiat ‎‎(meninggalkan bukit Uhud), maka janji kemenangan tertunda.‎

Peristiwa Uhud ini sungguh telah menoreh peristiwa yang menakjubkan, antara lain; jumlah ‎musuh tiga kali lipat lebih banyak daripada jumlah kaum muslimin. Kemudian, Allah Ta’ala ‎menangkan kaum muslimin di pagi hari, tapi tatkala mereka bermaksiat, Allah Ta’ala timpakan ‎musibah di sore hari.‎

Kelalaian yang Terabaikan

Saudaraku, jika kita melihat dari sebagian kaum muslimin sekarang. Sebagian dari mereka ‎menyangka bahwa Allah Ta’ala akan memaklumi kemaksiatan seorang hamba, jika ia bermaksiat ‎lantaran menurutnya ia telah lama memperjuangkan Islam dan bergabung dengan para aktivis ‎Islam. Maka ia pun memandang remeh urusan maksiat. Apalagi setelah berlalunya masa yang ‎panjang dari perjuangannya.‎
Maksiat berbentuk apapun pasti akan mempengaruhi dirinya dan orang lain dalam ber-‎Iqomatuddin. Sehingga tertundanya kemenangan dan terseok-seoknya perjalanan iqomatuddin ‎ini, bisa jadi desebabkan maksiat-maksiat pengusungnya. ‎

Seseorang yang bermaksiat mungkin saja melihat badan, harta, dan keluarganya baik-baik saja. Ia ‎merasa tidak ada hukuman atas kemaksiatan yang dilakukannya. Sebenarnya pada saat itulah ia ‎sedang mendapatkan hukuman. Karena pada saat manisnya kelezatan baribadah berubah menjadi ‎hambar tak terasa dan yang tersisa tinggal pahitnya penyesalan, kesedihan, dan kegelisahan.‎

Saudaraku, waspadalah terhadap kejahatan yang disepelekan. Ia mungkin saja dapat membakar ‎negeri. Mematikan hati para pejuang Islam dan menunda kemenangan yang Allah Ta’ala janjikan. ‎
Semoga Allah Ta’ala melindungi dan menjaga kita dari bahayanya kemaksiatan yang merajalela ‎di era moderen ini. Sehingga turunlah kemenangan yang telah Allah Ta’ala janjikan kepada kaum ‎muslimin. Wallahu ‘alam ‎
Penulis: Ibnu Jihad
Editor: Abu Mazaya


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Mengukur Kemenangan



Mengukur Kemenangan


An-Najah.net – Tidak semua kemenangan itu dinilai dengan kemenangan yang hakiki. Kemenangan adalah tujuan dari setiap peperangan. Baik kemenangan maknawi maupun hakiki, ia adalah salah satu tujuan dari sebuah pertempuran.

An-Nasr Dalam Pandangan Manusia

Namun perlu kita garis bawahi, kebanyakan kaum muslimin yang berjihad di medan perang, menilai kemenangan terbatas dengan kemenangan di medan tempur saja, melupakan kemenangan-kemengangan secara maknawi yang banyak mereka capai.

Padahal Allah Ta’ala mensyariatkan jihad ini kepada kita dan tidak memberikan jaminan kepada orang yang menyambut seruannya untuk selalu menang (menang secara hakiki). Bahkan, Allah Ta’ala telah menetapkan kekalahan bagi kaum muslimin sekali waktu, seperti dalam firman-Nya:
إنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. (Q.S. Ali Imran: 140)
Ayat ini turun untuk menegaskan sunnah terjadinya kekalahan yang pasti berjalan. Sunnah kekalahan di medan perang yang dialami kaum muslimin pada perang Uhud ini berlaku bagi siapa saja.
Seandainya manusia mau membuka lebih lebar pemahaman mereka tentang makna kemenangan, mereka akan berkesimpulan bahwa siapa saja yang berjihad dan merupakan puncak tertinggi dari ajaran Islam, ia tidak pernah rugi sedikitpun.

Bahkan, seorang mujahid sejatinya selalunya berada dalam posisi menang. Apapun kondisinya. Berjaya, tertawan, terusir bahkan terbunuh, sejatinya mereka tetaplah menang. Jihad sebenarnya adalah sebuah keberuntungan dalam segala kondisinya, walaupun kenyataan di lapangan berbeda dengan yang diharapkan.

An-Nash Dalam Pandangan Allah Ta’ala

Dalam AI-Qur‘an dan As-Sunnah akan kita temukan hakikat kemenangan bagi seorang mujahid, baik secara individu maupun berjamaah. Kami akan paparkan agar menjadi renungan kita bersama. Sehingga kita semakin mantap melangkah di jalan yang diridho ini.

Pertama, Kemenangan seorang mujahid ketika berhasil mengalahkan hawa nafsunya, bujuk rayuan setan serta delapan perkara yang disukai semua manusia, mengalahkan urusan-urusan duniawi, di mana dalam hal ini banyak sekali kaum muslimin yang gagal, bahkan bisa dibilang hampir seluruh manusia gagal untuk mengalahkan perkara-perkara ini. Allah Ta’ala menyebutkan kedelapan perkara ini dalam firman-Nya:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
”Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah Iebih kamu cintai Iebih daripada Allah Ta’ala dan RasuI-Nya dan (dari) beriihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah Ta’ala mendatangkan keputusan-Nya, Dan Allah Ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S. At-Taubah: 24)

Kedua, Jika seorang hamba berangkat berjihad, berarti ia telah mewujudkan kemenangan yang lainnya. kemenangan kali ini berupa kemenangan atas setan yang senantiasa menghalanginya dari jihad dengan berbagai cara. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah w. bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

”Syetan duduk menghadang anak Adam di atas jalan iman, syetan itu berkata kepadanya, ”Apakah kamu mau beriman dan meninggalkan agamamu dan agama ayahmu?” Anak Adam itu tidak memperdulikannya dan terus beriman. Kemudian syetan duduk di jalan hijrah, ia berkata kepadanya: ”Apakah kamu mau berhijrah dengan meninggalkan harta dan keluargamu?” Ia tidak memperdulikannya dan terus berhijrah. Kemudian syetan duduk di atas jalan jihad, ia berkata kepadanya: “Apakah kamu mau berjihad? Nanti kamu terbunuh dan isterimu akan dinikahi orang, hartamu akan dibagibagikan kepada orang lain.” Ia kembali tidak memperdulikannya dan terus berjihad hingga terbunuh. Siapa yang seperti ini keadaannya, menjadi hak Allah untuk memasukkannya ke dalam jannah. ” (H.R. Bukhori)

Ketiga, Ketika seorang mujahid teguh di atas jalan dan prinsip jihad, apapun yang menimpa dirinya, baik kepayahan dan kegoncangan serta komentar-komentar yang melemahkannya, pada dasarnya ini sudah merupakan satu kemenangan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
”Alloh meneguhkan (iman) orang-orang beriman dengan perkataan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,  dan Allah Ta’ala menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia Kehendaki (Q.S. lbrahim: 27)

Keempat, Di antara bentuk kemenangan yang Allah Ta’ala berikan kepada para mujahidin adalah dengan menghancurkan musuh mereka dengan menimpakan musibah dari sisi-Nya. Musibah ini terjadi disebabkan karena jihad yang dilakukan para mujahidin.

Seringnya para mujahidin kalah menghadapi musuhnya di medan tempur, ini mengingat tidak seimbangnya kekuatan kedua belah pihak. Akan tetapi Allah Ta’ala yang Mahakuat lagi Mahaperkasa, tiada Dzat yang mampu menandinginya.
Karena para mujahidin telah berusaha secara maksimal, mencurahkan segala teaga dan upayanya, berjuang dengan kekuatan yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka, ber-I’dad dengan serius, maka Allah Ta’ala akan menjadikan usaha dan perlawanan mereka yang tidak seberapa itu menjadi sebab kehancuran musuh mereka dengan menurunkan kegoncangan dari sisi-Nya.
Demikianlah beberapa kemenangan-kemenangan maknawi  yang jarang disadari oleh para pejuang Allah Ta’ala, para mujahidin. Sebagian mereka beranganggapan kemenangan itu hanya kemenangan dalam medan perang saat melumpuhkan musuh. Inilah kenyataan yang masih sering terjadi di kalangan para mujahidin.
Semoga risalah singkat ini bisa memantapkan jiwa dan raga bagi para pengembannya saat berjuang dijalan Allah Ta’ala yang sangat agung ini.  Wallahu Ta’ala ‘Alam
Sumber            : Majalah An-Najah edisi 60, hal 11,12
Penulis             : Tengku Azhar
Editor              : Ibnu Alatas

GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Kemenangan Pasti Datang


Kemenangan Pasti Datang


An-Najah.net –  Langkah ideal menepis kegundahan. Imam Syafi’i pernah ditanya, “Manakah ‎yang lebih utama bagi seseorang; apakah diberi tamkin (kemenangan) oleh Allah Ta’ala ataukah ‎diberi ujian?”. Beliau menjawab, “Seseorang tidak akan diberi kemenangan oleh Allah ta’ala ‎hingga ia diberi ujian terlebih dahulu.” (Al-Jihad wal Jihad, Syaikh Umar bin Mahmud Abu ‎Umar, hal. 68)‎
Saudaraku, ujian demi ujian telah menimpa umat ini. Dari yang ringan di rasa hingga yang berat ‎sekalipun telah dialami oleh umat ini. Di antara kaum muslimin ada yang sadar, dan kemudian ‎terbangun dari kelalaian dan kelengahannya selama ini.

Salah Kaprah

Namun tidak sedikit juga mereka yang memanfaatkan ujian ini untuk meraup keuntungan materi ‎duniawi yang tidak berarti. Dalam benak mereka hidup hanya sekali dan jangan disia-siakan ‎kesempatan emas ini. Maka semakin beratlah beban yang akan dipikul oleh umat ini.‎

Orang-orang yang rapuh ruhiyah dan lahiriyah-nya dari tarbiah dan tasfiyah yang benar akan ‎menganggap ujian sebagai malapetaka yang besar. Hingga akhirnya mereka lari dari jalan yang ‎selama ini mereka perjuangkan. Mereka lari dikarenakan tipisnya perasaan teguh dan kecilnya ‎persangkaan baik kepada Allah Ta’ala. ‎
Adapun mereka yang berjiwa hanif akan mejadikan ujian sebagai karunia terbesar dari Allah ‎Ta’ala. Yang dengan ujian-ujian tersebut Allah Ta’ala ingin mengangkat derajatnya di sisi-Nya. ‎Kekuatan, kecemasan, kelelahan dakwah dan jihad, ancaman, buronan dan selainnya adalah ‎permata-permata indah yang menghiasi setiap langkah perjuangannya.‎
Kerenanya, setiap ujian yang selama ini kita hadapi merupakan pelajaran berharga untuk ‎menyusun langkah yang lebih ideal dan mengevaluasi setiap kenerja ‘amal jama’i’ yang sela ini ‎digeluti. Berikut akan kami paparkan beberapa sikap yang harus kita pegang dengan kuat untuk ‎menghadapi pasang-surutnya langkah perjuagan ini.‎

1.‎ Jangan Sampai Niat Bergeser

Niat yang iklas adalah senjata paling ampuh untuk menumbangkan segala kegundahan dan ‎kerisauan. Kerja keras memang butuh penilaian dan penghargaan. Namun karena kurangnya ‎keihklasan, tidak sedikit para pengamban din salah menilai. Banyaknya pendukung dan pengikut ‎dianggap sebuah keberhasilan dan kesuksesan. Dan banyaknya celaan dan cacian dianggap ‎kemuduran dan ketidakberuntungan dalam perjuangan. ‎

Saudaraku, bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan Katakanlah, Bekerjalah kamu, maka ‎Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan ‎dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-‎Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S At-Taubah: 105)‎

‎2.‎ Tsiqoh Kepada Allah Ta’ala Dan Rasul-Nya

Saudaraku, Tsiqoh (teguh keyakinan) kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya merupakan obat paling ‎ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit yang diderita oleh umat ini. Baik individunya ‎maupun jamaahnya. Kurangnya rasa Tsiqoh kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya mengakibatkan ‎umat ini jauh dari amal-amal islami. Padahal jika umat ini telah jauh dari amal-amal islami maka ‎umat ini akan mudah untuk dipalingkan dari kebenaran, dan lebih dari itu sangat mudah untuk ‎dikuasai oleh musuh-musuh mereka. ‎
Rasulullah pernah bersabda, “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat ‎cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya:‎
Pertama, tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan ‎terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang ‎belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka. ‎
Kedua, tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan ‎kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.
Ketiga, tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti ‎meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak ‎akan beri hujan. ‎
Keempat, tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan ‎atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya.
Kelima, dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan ‎tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan rasa ‎takut di antara mereka.” (HR Ibnu Majah 4009)
Saudaraku, inilah gambaran musibah yang akan dipikul umat ini lantaran mereka meninggalkan ‎amal-amal islami, meremehkannya, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang berusaha untuk ‎mengubah dan mengantinya. Wal’iyadzubillah
 
Maka, benarlah perkataan Umar bin Khattab,
yang beliau sampaikan kepada para pasukannya ‎bahwa dosa-dosa yang dimiliki oleh pasukannya jauh lebih ia takuti dari pada jumlah dan ‎kekuatan musuh-musuh mereka.‎

‎3.‎ Amal Shalih

Saudaraku, amal shalih merupakan sarana mempercepat datangnya pertolongan dan rahmat Allah ‎Ta’ala. Bila melihat keadaan kaum muslimin pada hari ini ibarat melihat bebuihan yang ada di ‎lautan. Jumlahnya tidak sama sekali mengendorkan nyali musuh. Hal ini dikarenakan umat Islam ‎yang telah jauh meninggalkan amal-amal shalih.‎
Walaupun ada di antara mereka yang beramal shalih, namun amal-amal shalih itu sangatlah ‎sedikit, kalau tidak demikian maka amal-amal shalih itu sekedar ritual dan rutinitas sehari-hari. ‎Dan sangat sedikit di antara mereka yang memahainya dengan benar.‎

Contoh saja, banyak para wanita muslimah yang shalat dan puasa, tapi di sisi lain mereka masih ‎memamerkan aurat dan mengumbar syahwat mereka. Untuk itu, kita jadikan amalan shalih kita ‎sebagai pendobrak keterasingan dan kekalahan umat ini. Karena kita akan dimenangkan oleh ‎Allah Ta’ala bukan karena banyaknya jumlah dan kekuatan kita, malainkan karena kebenaran din ‎ini. Wallahu ‘alam

Penulis: Abdullah
Sumber: Majalah An-Najah edisi 61‎
Editor: Ibnu Jihad


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Khutbah Jum’at, Empat Arti Kemenangan



Khutbah Jum’at, Empat Arti Kemenangan




إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
قال تعالى:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ
ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ
Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Ahlu Sunnah wal Jamaah dalam memaknai asma’ wa shifatullah, atau nama dan sifat-sifat Allah meyakini bahwa Allah tidak akan menghinakan siapa saja yang bertawakkal dan menyerahkan semua urusan kepada-Nya. Mari kita lihat fakta-fakta sejarah. Setiap nabi, ulama, dai dan pejuang Islam yang telah mencurahkan tenaga, pikiran, harta hingga jiwanya tidak pernah dihinakan Allah. Bahkan Allah menjamin akan menolong siapa saja yang memperjuangkan agama-Nya.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7).
Allah Ta’ala berjanji menolong para wali-Nya. Serta menjadikan kehinaan dan kekalahan bagi orang orang kafir dan munafikin. Demikianlah sunnatullah yang berlaku di setiap masa dan tempat.

Bentuk-bentuk Kemenangan

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Satu hal yang harus kita pahami, bahwa kemenangan itu bentuknya bermacam-macam. Kemenangan tidak hanya berarti berhasil mengalahkan lawan di medan pertarungan. Banyak nabi yang dibunuh dan diusir kaumnya. Demikian pula banyak dai yang dipenjara dan gugur. Banyak negeri muslim yang dijajah. Hingga umat Islam dibantai di mana-mana. Secara sekilas, banyak orang menyebut mereka kalah, tapi pada hakikatnya mereka telah meraih kemenangan.
Bentuk-bentuk kemenangan menurut Islam antara lain;

Pertama, kemuliaan dan kekuasaan di bumi.

Allah berikan negeri dan tentara yang kuat bagi umat Islam. Sebagaimana Allah telah berikan kepada nabi Daud dan Sulaiman. Allah befirman:
فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ اللهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ
“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 251).
فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا
“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).” (QS. Al-anbiya’: 79).
Allah berikan risalah kenabian dan kekuasaan kepada kedua nabi tersebut. Demikian pula Nabi Muhammad SAW, Allah menolong beliau dengan memberi kemenangan dan bangsa Arab takluk atau menggabungkan diri di bawah pemerintahan Islam. Inilah makna kemenangan yang pertama.

Kedua, kehancuran orang-orang kafir dan musyrik dengan azab Allah Ta’ala.

Hukuman dan azab yang Allah berikan sebenarnya adalah pertolongan dari Allah. Itu bisa kita lihat dalam kisah Nabi Nuh dalam Al-Qur’an;
“Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)”. Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran” (QS. Al-Qomar: 10-15).
Allah Ta’ala juga menolong Nabi Hud, Shalih, Luth, Syuaib dengan cara Allah menghancurkan orang-orang kafir dengan azab-Nya. Serta Allah menyelamatkan para nabi dari azab tersebut.

Ketiga, diberi kekuatan aqidah dan iman meski dalam tekanan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Ketika seorang muslim mampu mempertahankan akidah dan imannya, sungguh ia telah meraih kemenangan. Allah menolong hamba-Nya dengan menguatkan akidahnya. Hamba tersebut ridha meski badan dikorbankan atau nyawa melayang demi menjaga keimanan. Contohnya ialah nabi Ibrahim yang rela dilempar ke dalam kobaran api demi aqidah dan dakwah. Demikian pula si Ghulam dalam surat Al-Buruj yang dipanah sang raja hingga meninggal. Apakah mereka disebut kalah? Tidak. Pada hakikatnya mereka menang, karena pengorbanan mereka menyadarkan kaumnya. Hingga kaumnya bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.
Kafilah iman dari masa ke masa tidak pernah sepi dengan tetesan darah syuhada’. Berapa banyak pejuang yang gugur, namun kafilah perjuangan tidak pernah berhenti. Dakwah terus tumbuh dengan cepat. Mati satu tumbuh seribu. Lihatlah Sayyid Qutub rahimahullah, pejuang dari Mesir ini berhasil melahirkan ribuan pejuang Islam lewat buku. Kisah perjuangannya selalu dikenang. Darah dan pengorbanannya menjadi siraman dan pupuk yang menumbuhkan tunas-tunas baru pejuang syariat.
Beliau pernah mengatakan:
اِنَّ كَلِمَاتَنَا سَتَبْقَى مَيِّتَةً لاَ حِرَاكَ فِيْهَا هَامِدَةً أَعْرَاسًا مِنَ الشُّمُوْعِ فَإِذَا مِتْنَا مِنْ أَجْلِهَا اِنْتَفَضَتْ وَ عَاشَتْ بَيْنَ الْأَحْيَاء . كُلُّ كَلِمَةٍ قَدْ عَاشَتْ كَانَتْ قَدْ اِقْتَاتَتْ قَلْبَ إِنْسَانٍ حَي فَعَاشَتْ بَيْنَ الْأَحْيَاءِ وَ الْأَحْيَاءُ لاَ يَتَبَنُّوْنَ الْأَمْوَات …
“Kalimat (materi dakwah) kita akan tetap mati tak berdaya gerak, diam laksana sumbu yang terjepit di tengah lilin. Tapi bila kita mati karena membelanya, ia menggeliat dan akan hidup di tengah umat manusia. Setiap kalimat yang hidup, pasti karena tumbuh di hati manusia yang hidup. Sebab sesuatu yang mati tak akan melahirkan sesuatu yang hidup.”
Inilah kemenangan terbesar dari berbagai bentuk peperangan dengan orang kafir. Bahkan kemenangan ini akan terus dikenang dalam sejarah perjuangan Islam.
Berapa banyak orang yang telah syahid, tapi mereka seakan hidup dengan dakwah dan jihadnya. Musuh Islam menyangka telah menang. Tapi tidak pernah mengira bahwa tulisan, khotbah dan setiap amal para syuhada’ telah menghidupkan dan menyuburkan ruh-ruh pejuang di setiap tempat dan masa.

Keempat, kekuatan hujjah atau argumentasi.

Allah menolong hambanya dengan memberi hujjah atau argumentasi yang benar dan kuat. Allah berfirman;
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 83).
Rasulullah SAW bersabda;
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
Senantiasa ada sekelompok ummatku yang dimenangkan atas kebenaran, tidak akan membahayakannya orang yang memusuhinya hingga hari Kiamat sedangkan mereka tetap seperti itu.” (HR. Muslim).
Dimenangkan dalam arti paling rendah adalah keberhasilan menyampaikan hujjah dalil dan penjelasan. Tidak ada yang bisa menghambat dan menghentikan hujjah sampai pada umat. Sedangkan makna yang paling besar adalah dimenangkan dengan diberi kekuasaan atau tamkin.
Sesungguhnya yakinnya seorang pejuang dengan janji, pertolongan dan perlindungan Allah Ta’ala adalah bekal yang sangat penting. Ia adalah harapan dan cahaya yang akan dapat menghantarkan seseorang meraih surga atau kemenangan di dunia. Barang siapa hilang keyakinan akan pertolongan Allah, ia telah mendapatkan kerugian yang nyata. Dan barang siapa ragu, Allah akan akhirkan pertolongan sesuai dengan kadar keraguannya. Allah Ta’ala berfirman;
مَن كَانَ يَظُنُّ أَن لَّن يَنصُرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ لْيَقْطَعْ فَلْيَنظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ
Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.” (QS. Al Haj: 15).
Barang siapa masih ragu dengan pertolongan Allah, hendaknya membaca firman Allah;
إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. Ghofir: 51)
Pertolongan Allah pasti datang untuk siapa saja yang berhak mendapatkannya. Yaitu orang-orang mukmin yang yakin dan istiqamah. Yaitu mereka yang merasakan kegoncangan, kesempitan dan kepedihan dalam menegakkan din ini. Mereka yakin bahwa pertolongan hanya milik Allah Ta’ala.
Untuk itu marilah kita memohon agar Allah segera memberikan kemenangan kepada para wali-Nya yang beriman. Dan semoga Allah menghancurkan orang-orang kafir dan menghinakan mereka di dunia sebelum kehinaan hakiki di akhirat nanti.
Demikian khotbah yang kami sampaikan. Segala kebenarannya datang dari Allah Ta’ala. Dan jika ada salah datang dari saya pribadi karena bisikan setan. Dan saya beristighfar kepada-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ حُكَّامًا وَمَحْكُوْمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَانَا وَأَسْرَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَاهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمنًا مُطْمَئِنًّا قَائِمًا بِشَرِيْعَتِكَ وَحُكْمِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمّ ارْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ، وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة
Penulis : Amru Khalis
Sumber : Majalah An-Najah Edisi 126 Rubrik Khutbah Jum’at
Editor : Miqdad
https://www.an-najah.net/khutbah-jumah-empat-arti-kemenangan/?fbclid=IwAR1j_L-fgUj2CEUN5_MkYdstpZHAP0I8O4elr_hGgOZG7yoOE74BKbAIKT8

GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Khutbah Jum’at: Tanggung Jawab Muslim Memilih Pemimpin

Khutbah Jum’at: Tanggung Jawab Muslim Memilih Pemimpin


Hadirin sidang jum’ah -rahimakumullah-