Keadilan dan Ketegasan Khalifah Umar bin Khathab Radhiallahu 'Anhu





◀️✂️Keadilan dan Ketegasan Khalifah Umar bin Khathab Radhiallahu 'Anhu✂️▶️             


▫️▪️▫️▪️

Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al Jazairi Rahimahullah menceritakan:


                Suatu ketika Umar bin Khathab sedang duduk, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari Mesir. Laki-laki itu berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, aku minta perlindungan kepadamu.” Berkata Umar: “Kau datang kepada orang yang akan melindungimu, ... ada apa?”

                Laki-laki itu menjawab: “Aku lomba balap  Kuda melawan anaknya 'Amr bin Al 'Ash (Gubernur Mesir), aku mengalahkan dia, tapi dia memukulku dengan cambuknya, lalu dia berkata: “Aku anak orang mulia!” Lalu dia (anaknya 'Amr)  menyampaikan hal itu ke 'Amr, ayahnya, dia takut aku akan melaporkan kepadamu maka aku dimasukan penjara, ketika aku sudah keluar maka aku sekarang melaporkannya kepadamu.”

                Lalu Umar bin Khathab menulis surat untuk 'Amr bin Al 'Ash, yang bunyinya: “Jika datang musim haji, datanglah kamu kemari dan bawa anakmu si Fulan.” Lalu Umar berkata kepada orang Mesir itu: “Kamu tinggallah di sini sampai dia datang.”

                Maka, 'Amr datang untuk haji, maka ketika Umar sudah menunaikan haji, Beliau duduk bersama manusia, juga terdapat 'Amr bin Al 'Ash, dan anaknya ada di sampingnya.

                Lalu orang Mesir itu berdiri, Umar melemparkan kepadanya tongkat, lalu dia (Orang Mesir) memukulnya (anak Amr) dan dia tidak menghentikannya sampai manusia memintanya untuk berhenti karena banyaknya pukulan itu.  

                 Lalu Umar berkata: “Pukul anak terhormat itu!” Dia berkata: “Wahai Amirul Mu’min, aku sudah memenuhi keinginanku dan aku sudah terobati.” Lalu Umar berkata: “Letakkan tongkat itu di kepalanya 'Amr yang botak itu!”

               Dia berkata: “Wahai Amirul mu’min, aku sudah memukul orang yang memukulku.” Umar berkata: “Demi Allah, seandainya kamu mau lakukan maka tak seorang pun yang akan mencegahmu sampai kamu sendiri yang menghentikannya.”

             Lalu Umar berkata kepada Amr bin Al Ash: “Wahai Amr, sejak kapan kamu memperbudak manusia? Padahal ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan bebas merdeka??"


🍀🌴🌹🍃🌸🌺🌷🌿🌻

📚 Syaikh Abu Bakar bin Jabir  Al Jazairi, Minhajul Muslim, Hal. 112, Cet. 4, 2012M-1433H. Maktabah Al ‘Ulum wal Hikam, Madinah

📓 Durus wa 'Ibar

📌 Semua manusia di depan hukum adalah sama, tidak ada anak pejabat, atau pejabat itu sendiri, jika terbukti berbuat salah maka mesti dihukum.

📌 Jangan memanfaatkan kedudukan orang tua atau saudara yang memiliki kedudukan.

📌 Pentingnya keberadaan pemimpin yang shalih, adil,  dan pemberani.

📌 Anjuran bagi para pemimpin untuk bersikap tegas kepada semua pelaku kezaliman.

📌 Anjuran menegakkan keadilan walau kepada pejabat tinggi.

🌀🌀🌀🌀

✏️ Farid Nu'man Hasan

Majelis Indahnya Berbagi, [25.02.16 21:34]
🌾🌷Dampak dan Akibat Mendatangi dan Percaya Peramal🌷🌾

💥💦💥💦💥💦

Assalamu'alaikum ...

Afwan ustadz, apakah bs di share materi ttg "hukum Percaya pd dukun, paranormal, org pintar dan atau sejenisnya ? i02

Jawaban:

Wa 'alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu 'ala Rasulillah wa ba'd:

Terdapat beberapa hadits yang menyatakan larangan mendatangi peramal dan semisalnya, dengan larangan yang amat keras.

1⃣ Pertama. Dari Shafiyah Radhiallahu ‘Anha, dari sebagian istri nabi, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barang siapa yang mendatangi peramal, lalu dia menanyainya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam. (HR. Muslim No. 2230, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16287, Al Baghawi dalamSyarhus Sunnah, 12/182)

Menurut Imam An Nawawi maksud “shalatnya tidak diterima” adalah shalatnya tidak mengandung pahala. Begitulah yang dikatakan mayoritas Syafi’iyah. Para ulama sepakat bahwa orang tersebut tidak wajib mengulangi shalatnya yang empat puluh malam tersebut, tetapi wajib baginya taubat. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/227)

 2⃣ Kedua. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من أتى حائضا أو امرأة في دبرها أو كاهنا فقد كقر بما أنزل على محمد [ صلى الله عليه و سلم ]

                Barang siapa yang mendatangi (baca: berjima’ dengan) istrinya yang sedang haid, atau dari duburnya, atau mendatangi peramal (dukun) maka dia telah kafir terhadap apa-apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ . (HR. At Tirmidzi No. 135. Ibnu Majah No. 639, An Nasa’i dalam Al Kubra No. 8968, dll. Imam Al Hakim mengatakan: shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Lihat Al Mustadrak, 1/8. Dishahihkan pula oleh para imam seperti Imam Al Munawi, At Taysir, 2/746, Imam Ali Al Qari, Mirqah Al Mafatih, 4/71, dll)

           📘     Maksud “mendatangi peramal” adalah dengan membenarkan apa yang dikatakan peramal tersebut. Imam Al Munawi mengatakan: “Yaitu jika bertanya kepadanya lalu meyakininya dan membenarkannya, jika bertanya tetapi untuk mendustakannya maka tidak termasuk ancaman dalam hadits ini.” (At Taysir, 2/746)

📙 Maksud  “Kafir” di sini bukan murtad, tetapi dalam rangka memperberat dan memperkeras maknanya. Seperti yang dikatakan Imam At Tirmidzi dalam Sunannya dari para ulama terdahulu. Tetapi jika dia mendatangi peramal itu karena dia menghalalkan dan membenarkan perbuatan tersebut maka itu kufur secara zahirnya. Jika dia tidak menghalalkan dan tidak membenarkan, maka itu bermakna kufur nikmat. (Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 1/355)

📔 Imam Ali Al Qari, mengutip dari Ibnu Al Malak, katanya: “Ini diartikan jika dia menghalalkan perbuatan tersebut dan meyakininya, jika tidak maka itu adalah fasiq. Disebut “kafir” saat itu maksudnya adalah  kafir terhadap nikmat Allah ﷻ, atau secara mutlak itu perbuatan kufur yang biasa dilakukan kaum yang ingkar kepada Allah ﷻ.” (Imam Ali Al Qari, Mirqah Al Mafatih, 2/489)

📓 Banyak sekali hadits-hadits serupa yang juga menggunakan kata “faqad kafara” atau “kufrun”, tapi tidak bermakna murtad tetapi untuk memperkuat dan memperberat kedudukan kesalahan perbuatan tersebut.

📚 Jadi, jika dia mendatanginya, lalu meyakininya dan membenarkannya serta dibarengi keyakinan bahwa adalah halal percaya terhadap peramal maka itu adalah kafir. Sedangkan jika tanpa ada keyakinan-keyakinan seperti ini, maka itu adalah fasiq, kufur nikmat, dan kafir ‘amali (perbuatan), bukan kafir i’tiqadi (keyakinannya).

Wallahu A’lam

☘🌺🌴🍃🌷🌻🌸🌾


✏️ Farid Nu'man Hasan

Posting ulang Oleh Team : Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo




Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin


EmoticonEmoticon