Khutbah Jumat : Bagaimana Seorang Muslim Menyambut Tahun Baru Masehi?


Bagaimana Seorang Muslim Menyambut Tahun Baru Masehi?


Khutbah Pertama
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الأَنبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ   اتَّقوا اللهَ  وأَصلِحوا أَمْرَ دِينِكم ومعَاشِكم، وتَفكَّروا فِي مَصِيرِكم ومَآلِكم.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
  Amma ba’du

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Nikmat itu disyukuri dengan kita terus menambah ketakwaan kita kepada Allah.
 Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Khutbah Jum'at Memperingati Hari Pahlawan


Pada siang hari ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Swt dengan selalu melaksanakan segala perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Dan hendaknya kita senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah diberikanNya kepada kita secara gratis. Walau terkadang ada kenikmatan yang diperoleh melalui usaha, perjuangan keras untuk mencapai kenikmatan tersebut. Salah satu diantara kenikmatan tersebut adalah kenikmatan kemerdekaan.

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia,

Setiap kali kita memperingati Hari Pahlawan, setiap kali itu pula kita diingatkan dengan peristiwa yang sangat heroik yang terjadi pada tanggal 10 November 1945. Pada saat itu tentara Belanda berusaha menguasai kembali Indonesia dengan memanfaatkan kehadiran tentara sekutu yang akan mengambil alih kekuasaan atas Kepulauan Nusantara ini dari pihak Jepang yang baru saja mengalami kekalahan dalam perang dunia ke II setelah Hirosima dan Nagasaki dihancurkan dengan bom atom oleh Amerika.

Khutbah Jum'at : Menanamkan Jiwa Pahlawan


Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi

Sumber: https://almanhaj.or.id/4003-adab-adab-dalam-berdoa.html

Khutbah Jum'at : Menanamkan Jiwa Pahlawan



الحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَمَرَناَ باِلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ وَالإِبْتِعاَدِ عَنِ العاَدَاتِ الجاَهِلِيَّةِ. وَالصَلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٌ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا نَبِيَّ الرَحْمَةِ وَقُدْوَةَ الأُمَّةِ لِنَيْلِ السَعَادَةِ فيِ الدُنْيَا وَالآخِرَةِ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ وَإِيّاَيَ بِتَقْوَى اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’ asyirol Muslimin Rahimakumullah
Mengawali khutbah Jum’at ini, marilah senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan inayah-Nya pada hari ini kita dapat menunaikan shalat Jum’at di Masjid ini, sekaligus menjadi pengingat bagi keimanan dan ketakwaan kita. Sehingga kita selalu menjaga dan meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya, yaitu ketakwaan yang dibangun karena mengharap keridhaan Allah Subhanahu Wata’ala, ketakwaan yang dilandasi karena ilmu yang bersumber dari al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah, dan ketakwaan yang dibuktikan dengan amal perbuatan dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi dan meninggalkan setiap bentuk larangan Allah Subhanahu Wata’ala.

Khutbah Idul Adha : PENGORBANAN DAN KEBANGKITAN UMAT

Khutbah Idul Adha :  

PENGORBANAN DAN KEBANGKITAN UMAT

 

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
الله أكبر 9 مرات
اْلحَمْدُلِلّهِ نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ, حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَ يُكَافِئُ مَزِيْدَهُ , حَمْدًا كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِهِ وَ عَظِيْمِ سُلْطَانِهِ وَنَسْتَعِيْنُهُ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ عَلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوَي وَنسْتغْفِرُهُ مِنْ جَمِيْعِ الْخَطَايَا وَ الذُّنُوْبِ وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلن تجد له وليا مرشدا- أَشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ- وَأشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ- اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هذَا الرَّسُوْلِ الْكَرِيْمِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ- أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .
 
Ma'asyirol muslimin wal muslimat riimakumullah
Allahu akbar 3x walillaahil hamd

Tiga Unsur kebangkitan Umat

Ada tiga unsur utama yang diperlukan untuk membangkitkan suatu umat.
Pertama: Risalah,
Kedua: keyakinan terhadap risalah.
Dan ketiga: Orang-orang yang mau berkorban memperjuangkan risalah tersebut.
Bagi umat Islam, risalahnya adalah ajaran-ajaran Islam itu sendiri yang bersumber dari Alquran dan As sunnah. Dengan demikian, tak perlu mencari atau menkodifikasi risalah lain karena Islam sejak lima belas abad yang lalu telah final, dengan arti bahwa ajaran-ajarannya telah sempurna (kamil), mencakup seluruh aspek kehidupan (syamil), dan sesuai bagi semua masa dan bangsa (universal).

Keyakinan semacan ini haruslah mendarah daging pada setiap individu muslim. Keyakinan bahwa hanya Islamlah agama yang mampu menciptakan keadilan dan kesejahteraan dunia. Semakin dalam kayakinan umat terhadap risalahnya ini, semakin besarlah kemungkinan untuk menjadi figur yang berkriteria jempolan.

Kemudian, risalah dan keyakinan terhadap risalah itu saja tidak cukup untuk membuat umat leading. Diperlukan sejumlah orang-orang yang mau berkorban memperjuangkan risalah tersebut. Yaitu berkorban dengan jiwa, harta, waktu, kedudukan dan segala yang dimiliki. Karena pertentangan nilai antara yang haq dan yang batil itu akan senantiasa kontinyu sampai kiamat.

Pengorbanan adalah salah satu asas dalam kebangkitan suatu umat. Kebangkitan umat tidak akan tinggal landas tanpa pengorbanan kaum muslimin.
Kebangkitan umat dan Pengorbanan.

Maa'asyirol mukminin wal mukminat rahimakumullah
Allahu akbar 3x walillahil hamd

Jalan kebangkitan umat Islamiyah, sejak dari Nabi yang pertama hingga Nabi yang terakhir, tidaklah mulus tapi penuh dengan duri dan kerikil-kerikil tajam. Dalam Al Qur’an Allah berfirman:
وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن
 
Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (QS. 6;112). Pada era modern inipun kebangkitan umat tidak terlepas dari rintangan, karena memang demikianlah tabiat jalannya kebangkitan umat. Hal ini tiada lain guna menyisihkan yang buruk (munafik) dengan baik (mukmin). Guna menguji kebenaran kata-kata orang yang mengaku beriman, sebagaimana firman-Nya:

أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون
Apakah kemudian itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman”,, sedang mereka tidak diuji lagi ?” (QS 29;2).

Setiap orang boleh mengaku bahwa dia adalah seorang muslim dengan hanya mengucapkan kalimah syahadah. Tapi untuk manjadi seorang muslim yang dikehendaki Allah, hal itu tidak cukup. Ia perlu diuji lebih lanjut dengan berbagai ujian. Antara lain dengan taklif (perintah agama dan larangannya) dan dengan pengorbanan. Sejauh ia melaksanakan taklif dan memparsembahkan pengorbanannya demi memperjuangkan risalah, sejauh itu pula kedudukannya dalam Islam.

Kewajiban Berkorban.

Pengorbanan terhadap kebangkitan umat itu tidak mengenal waktu dan tempat. Setiap muslim wajib berkorban kapan saja dan dimanapun ia berada. Karena dalam kaedah fiqih: “Ma la yatimmul wajibu ulla bihi fahuwa wajib “ dengan demikian, orang-orang yang mengelak atau enggan berkorban demi kebangkitan umat itu berdosa. Allah SWT mengancam mereka dalam firman-Nya:

قل إن كان آباؤكم وأبنآؤكم وإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره والله لا يهدي القوم الفاسقين
 
“Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri, istri, kaum keluargamu, Harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. 9; 24). Dan sebaliknya, orang-orang yang mempersembahkan sebaik-baik pengorbanan mereka dengan penuh keikhlasan, akan memperoleh balasan yang berlipat ganda. Allah SWT menjamin dalam firman-Nya:

إن الله اشترى من المؤمنين أنفسهم وأموالهم بأن لهم الجنة
 
“sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka” (QS. 9:111). Sesungguhnya pengorbanan yang dipersembahkan seseorang itu sekali-kali tidak akan hilang atau terlupakan. Pengorbanan yang sekecilpun akan dicatat dengan tinta emas.

Antara pengorbanan dan perjuangan umat

Pada lahirnya, pengorbanan itu identik dengan perjuangan. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Tiada perjuangan tanpa pengorbanan. Dan pengorbanan merupakan salah satu dasar perjuangan. Keisalaman seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan pengorbanan. Iman yang sesungguhnya juga menuntut pengorbanan. Allah berfirman:

إنما المؤمنون الذين آمنوا بالله ورسوله ثم لم يرتابوا وجاهدوا بأموالهم وأنفسهم في سبيل الله أولئك هم الصادقون
 
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (Al hujuraat 15)

Membiasakan Diri Hidup Sederhana.

Maa'asyirol mukminin wal mukminat rahimakumullah
Allahu akbar 3x walillahil hamd

Jalan kebangkitan umat tidaklah lapang dan nyaman, oleh karena itu orang yang terjun ke medan perjuangan banyak dituntut untuk bersabar, membiasakan diri hidup sederhana dan mengurangi kesenangan dunia.

Orang yang sudah terbiasa hidup mewah akan merasa berat untuk berjuang di jalan Allah. diantara sebab mengapa mayoritas kaum muslimin kini lebih semangat berkorban untuk kepentingan selain maslahat agama. Karena boleh dikatakan bahwa antara hidup mewah dan agama itu tidak akan pernah bertemu. Bahkan kalau menyimak tentang kehidupan Nabi dan para sahabat dahulu, akan didapat suatu kehidupan yang sangat khas, sederhana dan penuh pengorbanan.

Menjauhi yang haram adalah perjuangan


Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang terdiri dari jutaan sel. Sel-sel itu terbentuk dari sari makanan yang kita konsumsi setiap hari. Bila makanan yang kita makan adalah halal maka sel-sel yang terbentuk dari sari makanan itu akan baik dan mempengaruhi seluruh tubuh kita baik jasmani, rohani, akal ataupun kejiwaan. Sebaliknya bila makanan itu berasal dari yang haram maka akan menghasilkan sel-sel tubuh yang haram yang tidak baik dan akan mempengaruh seluruh aspek kehidupan kita. Seperti;Ucapannya tidak baik dan kasar, prilakunya menyimpang, sangar dan prilaku-prilaku serta ucapan lainnya yang membawa dirinya kepada neraka. Barangkali di sini rahasia makna ucapan Rasulullah :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
 
Artinya: Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari makanan yang haram, karena neraka lebih berhak atasnya ( H.R Ahmad dan At turmudzi)
Dalam riwayat lain disebutkan;

Dari Jabir bin Abdillah ia berkata telah diriwayatkan kepada kami bahwa rasulullah SAW bersabda: Wahai Ka’b bin ‘Ujroh, aku mohonkan perlindungan untukmu kepada Allah dari kepemimpinan orang-orang bodoh. Ka’ab bertanya: Apakah itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: “setelahku akan ada Para penguasa di mana siapa yang masuk kepada mereka dan membenarkan ucapannya serta mendukung kedzoliman mereka maka mereka bukanlah golonganku dan aku tidaka termasuk dalam golongannya dan tidak akan masuk dalam telagaku. Dan barangsiapa yang tidak mau masuk kepada mereka , tidak membenarkan ucapan mereka dan tidak mendukung kedzoliman mereka maka mereka adalah termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya serta akan masuk dalam telagaku. Wahai Ka’b bin ‘Ujroh, Sholat adalah taqorrub , puasa adalah benteng, sedekah menghapuskan kesalahan seperti air memadamkan api. Wahai Ka’b bin ‘Ujroh, tidak akan masuk sorga orang yang dagingnya tumbuh dari makanan haram karena neraka lebih dekat dengannya. Wahai Ka’b bin ‘Ujroh, Manusia ada dua kelompok; Satu kelompok menjual dirinya dan membebaskan hambanya dan kelompok lain yang membeli dirinya dan membebaskan hambanya

Menjauhi kesenangan nafsu dengan menjauhi yang haram, adalah pengorbanan. Orang yang selalu makan yang halal adalah para pejuang penegak agama Allah di bumi. Di antara keutamaan makan halal adalah:

1. Memakan yang Halal berarti mentaati perintah Allah dan RasulNya
Allah dan rasulNya memerintahkan agar kita senantiasa memakan yang halal dan baik. Dalam Al Quran disebutkan:
يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.(Al Baqoroh 172)
Dalam ayat lain disebutkan:
Artinya: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al mu’minun 51)

2. Melindungi diri dari neraka
Orang yang memakan makanan halal akan dilindungi dari neraka. Di sana banyak hadits yang menjelaskan hal itu a.l.:
”Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a. ia berkata : adalah seorang di bawah tanggungan Rasulullah saw bernama Kirkiroh, kemudian ia meninggal. Namun Rasulullah saw berkata bahwa ia akan masuk ke neraka. Maka para sahabat pergi memeriksanya, ternyata mereka menemukan sebuah baju jubah hasil tipuan
(Shohih Bukhori hadits no. 2845)(Tuhfatul Ahwadzi hadits no. 1381)
Dalam hadits lain dinyatakan;
“Barangsiapa yang mengambil hak milik orang muslim dengan menggunakan sumpah maka Allah akan mewajibkan untuk masusk neraka dan diharamkan masuk surga. Seorang bertanya: Walaupun barang yang kecil wahai rasulullah? Beliau bersabda: walaupun sepotong kayu arok .

3. Mendapat keberkahan rizki
Orang yang memakan barang yang halal akan mendapat keberkahan dalam hiudpnya karena dia atermasuk orang yang bertakwa. Dalam sebuah ayat disebutkan:
ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبونArtinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ( Al A’rof 96)
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang muttaqin hanyalah orang yang mau makan halal dan takut terjerumus pada yang haram.:
At turmudzi meriwayatkan dari Athiyyah as sa’di dari Rasulullah saw “seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sehingga ia meninggalkan sesuatu yang halal untuk menghindari sesuatu yang haram. Al Khathobi berkata: Yang saya tidak ragukan bahwa sikap waro’ adalah harus menjauhi yang diragukan. Hal ini ada tiga macam: wajib , mustahab dan makruh. Yang wajib adalah menjauhi sesuatu yang pasti akan melakukan yang haram, Yang mustahab adalah menjauhi bermuamalah dengan orang yang kebanyakan hartanya adalah haram, dan yang makruh adalah menjauhi hal-hal yang diringankan syariah karena berlebihan.
Ibnu Umar r.a. berkata : Telah beresabda Rasulullah saw “seorang mukmin akan berada dalam kelapangan agamanya selama tidak makan makanan yang haram.
(Kitab Shohih Bukhori hadits nomor 2355, ) (Musnad Ahmad )

4. Orang Yang makanannya tidak halal akan masuk neraka.
Dalam sebuah atsar disebutkan : barangsiapa tidak peduli dari mana ia dapatkan makanannya, maka Allah tidak akan peduli padanya dari pintu mana ia akan dimasukkan neraka.

5. Orang yang makan halal, dikabulkan doanya:
Allah berfirman dalam S. al Baqoroh ayat 168,
يا أيها الناس كلوا مما في الأرض حلالا طيبا ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين
yang artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
Ketika ayat ini dibacakan di hadapan Nabi SAW berdirilah seroang sahabat bernama Sa’d bin Ubay seraya berkata: Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar menjadikanku sebagai orang yang dikabulkan doanya. Beliau bersabda: “Makanlah yang baik dan halal pasti dikabulkan doamu. Demi dzat yang jiwaku berada dalam gengamanNya, seorang yang memasukkan sekerat daging haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amalnya selama empat puluh hari dan barang siapa yang dagingnya tumbuh dari barang haram dan riba maka neraka lebih utama untuk membakarnya.

6. Memakan yang halal syarat mencapai hakekat keimanan
Rasulullah saw telah bersabda:” seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sampai meninggalkan sebagian apa-apa yang halal karena khawatir tererosok pada yang haram.
Sahal At tustury berkata: “seorang tidak mungkin mencapai hakekat keimanan sehingga memiliki empat sifat : Melaksanakan semua yang wajib ditambah dengan yang sunnah, Memakan yang halal dengan penuh waro’, menjauhi yang diharamkan baik yang lahir ataupun yang batin dan sabar melaksanakan semuanya sampai mati.

7. Pemakan barang haram, amalnya tidak diterima
Dalam sebuah hadits disebutkan : sesungguhnya Allah memiliki malaikat di atas baitil Maqdis yang menyeru setiap malam : Barangsiapa yang memakan yang haram maka tidak diterima amalannya.

Contoh-contoh pengorbanan.

Para sahabat yang memahami kewajiban berkorban adalah contoh terbaik yang pernah dikenal manusia dalam mengorbankan Jiwa, raga, dan harta benda, demi kebangkitan umat dan demi menegakkan Agama Allah di atas bumi: Dengan membaca siroh/riwayat hidup rasulullah dan para sahabatnya, akan kita temukan bukti pengobanan mereka.

Dari Shuhaib r.a berkata: Tatkala aku hendak hijrah dari Mekkah menuju Rasulullah SAW (di Madinah), orang-orang Quraisy berkata kepadaku: wahai Shuhaib, kamu dulu datang kepada kami tanpa harta, lalu kini kamu hendak keluar bersama hartamu, demi Allah, itu tidak boleh terjadi. Maka aku menjawab: apakah jika aku menyerahkan hartaku kepada kalian, kalian akan membiarkan aku pergi mereka berkata: ya. segera aku serahkan hartaku kepada mereka, dan mereka membiarkan aku. Lalu aku berangkat hingga sampai Madinah. Di sana kabar itu sampai kepada Rasulullah SAW, dan beliau bersabda: Shuhaib beruntung Shuhaib beruntung dua kali.

Demikianlah dari dua contoh di atas dapat disaksikan bagaimana para sahabat dahulu mengorbankan harta dan rela meninggalkan kaung halaman yang mereka cintai guna menegakan pilar-pilar kebangkitan umat. Karena apalah artinya harta dan kampung halaman, jika risalah Islam tak bisa ditegakan. Dengan risalah dan pengorbanan, semuanya itu kelak akan kembali jua.

Berkorban dengan kesenangan

Maa'asyirol mukminin wal mukminat rahimakumullah
Allahu akbar 3x walillahil hamd

Al Baihaqi dan Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Nusaibah binti Ka’ab Al Anshoriyah setelah kematian ayah, saudara dan suaminya sebagai syuhada’ pada perang Uhud. Ketika diberi kabar tentang hal itu dia berkata: bagaimana keadaan Rasulullah SAW ? Orang-orang menjawab: Al Hamdulillah beliau baik, sebagaimana yang engkau harapkan. dia berkata: semua musibah selain kematianmu adalah kecil (maksudnya: semua musibah itu remeh asal engkau selamat).

Dari Sulaiman bih Bilal r.a: Bahwa Rasulullah SAW tatkala pergi ke Badar (untuk berperang) Sa’ad bin Khoitsamah dan ayahnya hendak ikut serta pergi bersama beliau. Hal itu dikatakan kepada Rasulullah SAW, maka beliau menyuruh salah satu saja yang ikut pergi. Keduanya lalu mengundi Khoitsamah bin Al Harits berkata kepada anaknya (yaitu) Sa’ad : salah seorang di antara kita harus tinggal. Maka tinggalah engkau bersama istri-istrimu. Sa’ad menjawab: kalau seandainya bukan untuk menggapai sorga pasti aku akan mengalah untukmu, sungguh aku berharap mati syahid di perjuangan ini. Kemudian keduanya mengundi, dan keluarlah nama Sa’ad. Maka segera pergilah dia bersama Rasulullah SAW ke Badar, dan dia dibunuh oleh Amru bin Abdu Wuddin.

Pengorbanan dengan nyawa:
Dari Anas: bahwa Abu Thalhah r.a membaca surat Al Baroah (taubah) hingga sampai firman Allah: Berangkatlah kamu (berperang) baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat (QS 9: 42) maka dia berkata: saya tidak melihat Allah melainkan menyuruh kita berangakat berperang, baik para pemuda maupun orang-orang tua. Hai anak –anakku, persiapkanlah untukku, mereka berkata: semoga Allah menrahmatimu, engkau telah berperang bersama Rasulullah hingga beliau wafat, dan bersama Abu Bakar hingga wafat, serta bersama Umar hingga wafat, biarkanlah kami berperang mewakilimu. Abu Thalhah berkata: tidak persiapkanlah untukku. kemudian dia berperang di laut dan meninggal di sana. Orang-orang tidak mendapatkan daratan untuk menguburkannya kecuali setelah tujuh hari, maka mereka segera menguburkannya disitu sedang jenasahnya belum berobah .
Demikianlah contoh-contoh diatas hanyalah sebagaian kecil saja. Masih banyak lagi pengorbanan Nabi dan sahabatnya yang tidak kita rekam disini. Islam telah berhasil menggembleng orang-orang yang berkualitas tinggi. Yaitu orang-orang yang mempertaruhkan jiwa raga, harta benda, kedudukan , waktu dan semua yag dimiliki untuk menegakkan agama Allah.

Ya, Islam tidak akan tegak melainkan dengan orang-orang yang berkaliber seperti mereka. Seseorang belum dianggap menegakan agama ini sebelum ia memperjuangkannya dari semua arah dan berkorban dengan semua kemampuanya.


Doa penutup

Marilah kita akhiri khutbah ini dengan memanjatkan doa dan munajat ke hadirat Allah SWT.
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد، اللهم أنت ربنا لا اله إلا أنت سبحانك إنا كنا من الظالمين
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ

Ya Allah, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara mereka, lembutkanlah hati mereka dan jadikanlah hati mereka keimanan dan hikmah, kokohkanlah mereka atas agama Rasul-Mu SAW, berikanlah mereka agar mampu menunaikan janji yang telah Engkau buat dengan mereka, menangkan mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Ilah yang hak jadikanlah kami termasuk dari mereka.

اللّهمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ
Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk.

اللهم عذِّبِ الكَفَرَةَ الذين يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ ويُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ ويُقاتِلُونَ أوْلِيَاءَكََّ
Ya Allah siksalah orang kafir yang menghalangi jalan-Mu, dan mendustai rasul-rasul-Mu, membunuh kekasih-kekasih-Mu..

اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين
Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam, hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh agama, jadikan keburukan melingkari mereka, wahai Rabb alam semesta. Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta. 

اللهم فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَخُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ مُقْتَدِرٍ إنَّكَ رَبُّنَا عَلَى كلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ يَا رَبَّ العالمين
Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِنا دِينِنا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِنا دُنْيَاناَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِنا وَأَصْلِحْ لِنا آخِرَتِنا الَّتِي فِيهَا مَعَادِنا وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
Ya Allah, Perbaikilah untuk kami agama kami, Yang menjadi benteng segala urusan kami. Perbaikilah urusan dunia kami, Yang di dalamnya terdapat penghidupan kami
Dan perbaikilah akhirat kami yang akan menjadi tempat kembali kami, Jadikanlah hidup ini wadah bertambahnya segala kebaikan bagi kami, Dan jadikanlah mati sebagai titik henti untuk kami dari segala keburukan

اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَنَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ
Ya Allah kami memohon kepadaMu keteguhan dalam melaksanakan ajaranMu dan kekuatan tekad untuk menepati jalan petunjuMu
Kami memohon kepadaMu untuk dapat mensyukuri ni'matMu dan beribadah menghambakan diri dengan baik kepadaMu
Kami memohon kepadamu hati yang suci sejahtera dan lisan yang jujur
Kami memohon kepadaMu kebaikan yang Engkau Maha Mengetahuinya
Dan kami berlindung kepadaMu dari kejahatan yang Engkau Maha Mengetahuinya

اللَّهُمَّ إِنّا نَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِنا وَدُنْيَاناَ وَأَهْلِنا وَمَالِنا اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْراَتِنا وَآمِنْ رَوْعَاتِنا اللَّهُمَّ احْفَظْنِا مِنْ بَيْنِ أيَدَيناَ وَمِنْ خَلْفِنا وَعَنْ يَمِينِنا وَعَنْ شِمَالِنا وَمِنْ فَوْقِنا ونَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ نُغْتَالَ مِنْ تَحْتِنا
Ya Allah kami mohon kepadaMu, keampunan dan kesejahteraan bagi agama dan urusan dunia kami, bagi keluarga dan harta kami
Ya Allah tutuplah aib dan cela kami, Dan ubahlah rasa takut kami menjadi rasa aman damai, Peliharalah kami dari depan dan dari belakang kami, Dari Kanan dan dari kiri kami, Dan dari atas kami dan dari bawah kami, Dan kami berlindung di bawah kemahaagunganMu, Dari malapetaka yang ditimpakan kepada kami, Dari arah bawah kami, Ya Allah ampunilah kesalahan kami, ketidaktahuan kami, Dan sikap berlebih lebihan kami dalam urusan kami, Dan hal hal yang engkau lebih tahu dari kami
Ya Allah ampunilah dosa dosa kami yang dilakukan dengan sungguh, Sungguh dan main main, Ketidaksengajaan kami dan kesengajaan kami

اللَّهُمَّ إِنِّا عَبْيدُكَ وَابْناءُ عَبْيدِكَ وَابْناءُ إمائِكَ نَاصِيَتِنا بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّنا حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيناَ قَضَاؤُكَ نَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْوبنا وَنُورَ صَدْورنا وَجِلَاءَ أحُزاْننا وَذَهَابَ همومناِّ
Ya Allah, Kami adalah hamba-hambaMU, anak-anak dari hamba-hambaMu, ubun-ubun kami di tanganMu, ketentuanMu terlaksana pada diri kami, keputusanMu sangat adil pada kami, Kami memohon kepadaMu dengan seluruh asma yang Engkau mliki, yang Engkau namakan diriMu dengan asma itu, dan Engkau wahyukan asma itu dalam kitabMu atau Engkau ajarkan asma itu kepada salah seorang hambaMu atau Engkau Khsususkan asma itu untuk diriMu dalam ilmu ghaib di hadiratMu, kami mohon kepadaMu agar jadikan Alquran yang agung ini sebagai tanaman yang subur di hati kami, cahaya terang di dada kami, menjadi penyirna kesedihan kami, dan penghapus keresahan dan kedukaan kami.

اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِنا وَتَوَفَّنِا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِنا وَنَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَكَلِمَةَ الْإِخْلَاصِ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ وَنسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ وَقُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ وَنَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بِالْقَضَاءِ وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَلَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَفِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ
Ya Allah Kami mohon kepadaMu rasa takut kepadaMu di saat dilihat orang ataupun tidak dilihat . Kami memohon kepadaMu ucapan hak di saat marah dan di saat hati lega. Aku memohon kepadaMu keni'matan yang tiada habis-habisnya dan kesenangan batin yang tiada putus-putusnya. Kami memohon ridlo setelah datang keputusnMu dan rasa kesejukan hidup ssetelah mati. Dan kami memohon kepadaMu kelezatan memandang wajahMu yang Mulia dan kerinduan untuk berjumpa dengan Mu dengan tanpa mengalami kesengsaraan yang memudlorotkan dan tanpa mengalami ujian yang mengakibatkan kesesatan. Yaa Allah Hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami pembawa petunjuk jalan yang berjalan di naungan hidayahMu

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Wahai Tuhan kami, Karuniakan kepada kami Kebaikan di dunia Dan di akhirat, Dan peliharalah kami Dari adzab api neraka

وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سيدِنا مُحَمّدٍ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ وَسلّم والحمدُ للهِ
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
(ACHMAD SATORI ISMAIL)



IKADI KEC NGUTER KAB SUKOHARJO
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316

Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin



Toko Busana Keluarga Muslim
GRIYA HILFAAZ 
Toko Busana Keluarga Muslim

Khutbah : Makna dan Esensi Taqwa

Makna dan Esensi Taqwa


Akumulasi berbagai serbuan yang menghantam umat Islam secara bertubi-tubi. Sepanjang sejarah kontemporernya melahirkan sejumlah kehancuran di segala bidang kehiduan umat. Akibatnya, kondisi umat seakan-akan terus menerus berada di dalam lingkaran ‘tanpa bobot’ dan tanpa peran yang berarti”. Dalam masa-masa kehancuran itu sosok peradaban Islam terkapar dalam pusaran arogansi peradaban materealistik. Akhirnya tingkat kualitas intelektual, kehidupan sosial budaya dan sikap mental orang Islam berada pada titik terendah, ”masuk lubang biawak”.

Oleh sebab itu, agenda mengembalikan eksistensi umat dan merekontruksi peradaban harus menjadi prioritas utama dalam agenda gerakan perubahan yang dilakukannya. Perubahan ini harus bertitik tolak dari pembangunan manusia yang mampu berprestasi dalam amal hadhari (gerakan peradaban) secara nyata.

Patut diakui, gerakan-gerakan kontemporer umat harus menyadari tentang prioritas proyek peradabannya yang terus menerus berada di bawah bayang-bayang kolonialisme baru dan menghadapi berbagai tantangan pertarungan peradaban dan konspirasi yang berat. Masyru’ Al-hadhari Al-Islami (proyek peradaban Islami) itu tidak lain adalah proyek kemanusiaan universal yang bertujuan mencapai kebaikan manusia secara umum sebagai refleksi dan implikasi dan sosiologis rahmatan lil’alamin. Ia adalah proyek yang sangat luas, yang membentang di ufuk-ufuk luas tanpa batas. Dalam proyek ini diperlukan semangat kerja dan inovasi tinggi yang selaras dengan gerak tata kosmos (nawamis al-kaun). Dalam proyek ini dituntut juga adanya keseimbangan (tawazun) antara tuntutan ruh, akal dan jasad. Ia adalah proyek yang harus didasarkan pada fondasi iman yang menghubungakan “bumi” dan “langit”. Tegasnya, masyru’al-hadhari adalah sebuah proyek besar yang menuntut perwujudan taqwa –sebagai dasar pembentukan peradaban dalam tingkat individu dan masyarakat.

Makna dan Esensi

Taqwa (bentuk invinitive berarti: “wiqayyah” ) dalam pengertian bahasa adalah menjaga sesuatu dari yang menyakiti dan yang membahayakannya. Dalam kaitan kehidupan manusia berarti sebuah upaya untuk menjadikan diri seseorang dalam keadaan selalu terpelihara dari sesuatu yang menakutkan. Pengertian ini sekaligus menggambarkan tentang hakikat dan esensi taqwa.

Dalam kondisi tertentu “takut” di sebut taqwa. Juga sebaliknya, sesuai dengan konteksnya, taqwa disebut takut. Maka dalam istilah syar’i taqwa di lukiskan sebagai upaya menjaga diri dari sesuatu yang menimbulkan dosa, yaitu dengan jalan menimbulkan apa saja yang dilarang Allah, bahkan meninggalkan sesuatu, yang sebenarnya tidak di larang, karena semata mata takut terjerumus ke dalam sesuatu yang di larang atau dosa.(Al-Raghib Al-Ashfani, Mu’jam Mufradat Alfazh Al-Qur’an). Memang perbuatan dosa bukan hanya membahayakan pelakunya tetapi juga membahayakan orang lain. Sedangkan Al-Jurjani (Kitab Al-Ta’rifat) menyebutkan Taqwa diartikan sebagai tindakan melindungi. Berarti Taqwa itu merupakan upaya pembentengan diri, dengan ketaatan yang total kepada Allah, dari segala bentuk hukuman – Nya. Disini posisi taqwa menjadi benteng yang dapat melindungi dari segala sesuatu yang menyebabkan seseorang terkena hukuman (uqubah), baik yang menyangkut sesuatu yang harus dilakukan atau sesuatu yang harus ditinggalkan. Selanjutnya Al-Jurjani menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan taqwa dalam taat adalah ikhlas. Sedangkan yang dimaksud dengan taqwa terhadap ma’siat adalah meninggalkan ma’siat dan waspada terhadapnya.

Atas dasar pengertian–pengertian tersebut, maka taqwa yang biasa diartikan sebagai proses menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, merupakan sebuah upaya manusia dalam menyelaraskan seluruh dimensi kehidupannya dengan pola dasar kehendak Allah yang dimanifestasikan dalam bentuk “hukum transeden” yang ditentukan dalam keseluruhan ayat-ayat dalam kandungan Al-Qur’an dan kemenyeluruhan sunnah Rasulullah SAW beserta ajarannya.

Konsistensi dengan 'Hukum-Hukum Allah'

Dengan demikian taqwa berarti konsistensi perilaku manusia dengan wahyu dan nawamis al-kaun (tata kosmos) yang dapat memastikannya meraih kehidupan ideal serta menjadi bekal hidup terbaik. Firman Allah: “Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang beriman”. (Al-Baqarah:197). Konsistensi itu mengandung makna kepatuhan kepada kehendak Allah SWT.

Tercapainya tujuan-tujuan Islam dalam masyarakat manusia tergantung pada sejauh mana individu dan masyarakat itu mematuhi kehendak Allah sesuai dengan sifat-sifat, kesanggupan-kesanggupan dan realitas-realitas materiil dalam lingkungan mereka (An-Nisaa’:97-99, Al-Israa’:84, Al-Baqarah:233). Ini menuntut optimalisasi keseriusan manusia dalam menghadapi dan memanfaatkan ruang dan waktu tersebut. Pemenuhan kehendak Ilahi itu merupakan “ amanah” yang telah disanggupi oleh manusia.

Konsekuensinya, seluruh perilaku individu dan sosial manusia harus selalu menerapkan “hukum-hukum Allah” tersebut sehingga menjadi sebuah “malakah”, karakter dan sikap mental yang melekat. Taqwa merupakan “malakah” yang memancarkan perilaku yang dapat wujud dalam diri seseorang. Kualitas taqwa akan terus meningkat apabila ajaran-ajaran Islam mampu membentuk pribadi dan perilakunya.

Oleh Allah SWT, Taqwa dilukiskan sebagai puncak prestasi hidup yang dapat dilakukan manusia (Al-Hujuraat:13). Dalam Al-Qur’an ditemukan beberapa ayat yang menjelaskan ciri orang yang bertaqwa. Ciri-ciri ini sekaligus merupakan pendefinisian praktis dan aktual bagi taqwa misalnya, dalam surat Al-Baqarah ayat 3 dan 4, taqwa didefinisikan sebagai beriman kepada yang ghaib (iman kepada yang ghaib merupakan dasar yang kokoh bagi kehidupan manusia) dan menyadari serta menghayati terhadap tujuan eksistensial, misi keberadaannya di bumi, dan keyakinan serta konsistensinya dengan nilai-nilai dan aturan yang datang dari Allah. Selain itu taqwa juga dilukiskan sebagai suatu kebajikan yang mencangkup berbagai dimensi kehidupan (Al-Baqarah:177). Taqwa juga digambarkan sebagai upaya peningkatan diri menjadi hamba Allah yang benar-benar menyadari eksistensi dirinya (Ali-Imran:15-17). 

Karena itu orang bertaqwa selalu berlaku ihsan terhadap segala sesuatu selain selalu berpandangan jauh (Al-Hasyr:18). Perbuatan ihsan yang dilakukannya itu merupakan pencerminan kesadarannya bahwa setiap perbuatan baik selain dapat meningkatkan kualitas dirinya juga dapat melahirkan keluhuran akhlaknya. Perbuatan itu pula sebagai refleksi dari keyakinan bahwa seluruh perbuatannya akan dipertanggungjawabkan diakhirat nanti (Ali-Imran:133-136 dan Al-Anbiyaa’:48-49). Orang yang bertaqwa semua perbuatan yang di lakukan dilandasi oleh nilai kebenaran dengan setulus-tulusnya (Az-Zumar:33).

Karena itu taqwa yang merupakan buah ibadah (pengabdian hanya kepada Allah SWT yang menjadi tujuan eksistensial penciptaannya) dijadikan sebagai misi kenabian yang bersifat langgeng (Nuh:3, Al-‘Ankabuut:16, Huud:78, Asy-Syu’araa’:161-163, Ali-Imran:102). Seluruh dimensi ibadah merupakan tangga maju ketaqwaan. Sedangkan ibadah yang membuahkan taqwa adalah ibadah yang dilandasi tauhid, sebuah keyakinan dan kesaksian bahwa ”tidak ada Ilah, yang patut disembah selain Allah”. Keyakinan ini merupakan pandangan umum tentang realitas wujud, Al-Khaliq yaitu Allah SWT yang kekal, pencipta alam semesta beserta aturan dan permainannya. Al-Khaliq dan Al-makhluq mutlak berbeda dalam wujud maupun dalam eksistensinya.

Seorang Muslim yang telah mengikrarkan kesaksiannya bahwa “tidak ada Ilah, yang patut disembah, selain Allah”, meyakini bahwa finalitas terdiri dari tatanan transendental dan tatanan alamiah (al-Ta’lim al-Islamiyah dan al-Nawamis al-Kauniyah). Tatanan transendental dengan segala nilai yang ada didalamnya dijadikan pedoman untuk mengatur tata kehidupan. Tauhid seorang Muslim bermakna penolakan untuk menundukan kehidupan manusia kepada setiap tuntunan yang bersumber dari Allah SWT dan kesediaan yang total untuk diatur oleh hukum-hukum-Nya.

Iman dan Taqwa yang bersemayam kokoh dalam lubuk hati manusia dapat memancarkan segala mata air kebaikan, melahirkan segala daya dan upaya, memupuk ketinggian cita-cita, memperkokoh tekad dan kemauan, memudahkan segala gerak dan langkah, meringankan beban dan rintangan, menjauhi semua bentuk kesalahan dan menerangi perjalanan kehidupan, serta melahirkan jiwa yang ikhlas. Puncaknya, orang-orang yang bertaqwa, akan memperoleh kepemihakan Allah SWT dalam seluruh dimensi kesejarahan (An-Nahl:127-128, Al-Anfaal:19, At-taubah:36).



IKADI KEC NGUTER KAB SUKOHARJO
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316

Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin



Toko Busana Keluarga Muslim
GRIYA HILFAAZ 
Toko Busana Keluarga Muslim

Khutbah : Memetik Buah Taqwa

Memetik Buah Taqwa


Islam dengan ajarannya yang indah mengajarkan bahwa perbedaan hakiki manusia tidak berada pada kedudukan, jabatan, pangkat, kekayaan dan lainnya. Manusia dibedakan dengan kadar dan bobot nilai mereka di mata Allah. Perbedaan antar manusia di dalam Islam terletak pada sejauh mana manusia mampu mengoptimalkan kadar ruhaninya untuk mendekat pada Tuhannya. Perbedaan manusia dan kemuliaan manusia ditentukan oleh nilai dan kadar taqwanya yang bergolak dalam dadanya. (QS. Al-Hujurat: 13) Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudhari disebutkan, Hendaknya kamu bertaqwa sebab ia adalah kumpulan segala kebaikan, dan hendaknya engkau berjihad karena ia sikap kependetaan seorang muslim, dan hendaknya engkau selalu berdzikir menyebut nama Allah karena dia cahaya bagimu (HR. Ibnu Dharis dari Abu Said Al-Khudhari).

Taqwa adalah kumpulan semua kebaikan yang hakikatnya merupakan tindakan seseorang untuk melindungi dirinya dari hukuman Allah dengan ketundukan total kepada-Nya. Asal-usul taqwa adalah menjaga dari kemusyrikan, dosa dan kejahatan dan hal-hal yang meragukan (syubhat).

Seruan Allah pada surat Ali Imran ayat 102 yang berbunyi, “Bertaqwalah kamu sekalian dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kamu sekali-kali mati kecuali dalam keadaan muslim”, bermakna bahwa Allah harus dipatuhi dan tidak ditentang, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri. 

Taqwa adalah bentuk peribadatan kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya dan jika kita tidak melihat-Nya maka ketahuilah bahwa Dia melihat kita. Taqwa adalah tidak terus menerus melakukan maksiat dan tidak terpedaya dengan ketaatan. Taqwa kepada Allah adalah jika dalam pandangan Allah seseorang selalu berada dalam keadaan tidak melakukan apa yang dilarang-Nya, dan Dia melihatnya selalu melakukan kebaikan. Menurut Sayyid Quth dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri kehidupan. 

Saat Umar ra bertanya kepada Ubay bin Ka’ab apakah taqwa itu? Dia menjawab; “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?” Umar menjawab; “Pernah!” Ubay menyambung, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab; “Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.” Maka Ubay berkata; “Maka demikian pulalah taqwa!”

Demikian banyak ayat Al-Qur`an yang menyerukan kita untuk bertaqwa dalam bingkai taqwa yang sebenarnya, dalam kadar taqwa yang semestinya, dalam bobot taqwa yang mampu kita lakukan. Lihat umpamanya (QS. Al-Ahzab : 70) dan (QS. At-Taubah : 119).
Dalam hadits juga sangat banyak seruan agar taqwa menjadi penghias perilaku kita dan menjadi mutiara batin kita. Seperti sabda Rasulullah, :

اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن (رواه الترمذي وأحمد و الدارمي)
 
“Bertaqwalah kamu kepada Allah, dimanapun kamu berada, dan ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan itu. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ad-Darimi).

Ciri Manusia Taqwa

Seseorang akan disebut bertaqwa jika memiliki beberapa ciri. Dia seorang yang melakukan rukun Iman dan Islam, menepati janji, jujur kepada Allah, dirinya dan manusia dan menjaga amanah. Dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Manusia taqwa adalah sosok yang tidak pernah menyakiti dan tidak zhalim pada sesama, berlaku adil di waktu marah dan ridha, bertaubat dan selalu beristighfar kepada Allah. Manusia taqwa adalah manusia yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sabar dalam kesempitan dan penderitaan, beramar ma’ruf dan bernahi munkar, tidak peduli pada celaan orang-orang yang suka mencela, menjauhi syubhat, mampu meredam hawa nafsu yang menggelincirkan dari shiratal mustaqim. Itulah diantara ciri-ciri sosok manusia taqwa itu.

Agar seseorang bisa mencapai taqwa diperlukan saran-sarana. Dia harus merasa selalu berada dalam pengawasan Allah, memperbanyak dzikir, memiliki rasa takut dan harap kepada Allah. Komitmen pada agama Allah. Meneladani perilaku para salafus saleh, memperdalam dan memperluas ilmu pengetahuannya sebab hanya orang berilmulah yang akan senantiasa takut kepada Allah (QS. Fathir: 28). Agar seseorang bertaqwa dia harus selalu berteman dengan orang-orang yang baik, menjauhi pergaulan yang tidak sehat dan kotor. Sahabat yang baik laksana penjual minyak wangi dimanapun kita dekat maka akan terasa wanginya dan teman jahat laksana tukang besi, jika membakar pasti kita kena kotoran abunya (HR. Bukhari). 

Membaca Al-Qur`an dengan penuh perenungan dan mengambil ‘ibrah juga merupakan sarana yang tak kalah pentingnya untuk mendaki tangga-tangga menuju puncak taqwa. Instrospeksi, menghayati keagungan Allah, berdoa dengan khusyu’ adalah sarana lain yang bisa mengantarkan kita ke gerbang taqwa. Pakaian dan makanan kita yang halal dan thayyib serta membunuh angan yang jahat juga sarana yang demikian dahsyat yang akan membawa kita menuju singgasana taqwa.

Buah Taqwa

Manusia dengan ciri dan karakterisrik di atas akan memetik buah ranum dan manisnya taqwa. Bukan hanya individual sifatnya namun masyarakat juga akan menikmatinya.

Manusia taqwa akan mendapatkan mahabbah Allah (Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, (QS. At-Taubah: 4), Allah akan selalu bersama langkah dan pikirnya (Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. An-Nahl; 128), mendapat manfaat dari apa yang dibaca di dalam Al-Qur`an (QS. Al-Baqarah; 2), lepas dari gangguan syetan –“sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila ditimpa was-was dari syetan, mereka ingat kepada Allah maka seketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya” (QS. Al-A’raf: 35), diterima amal-amalnya (QS. Al-Maidah: 27), mendapatkan kemudahan setelah kesulitan dan mendapat jalan keluar setelah kesempitan (QS. Ath-Thalaq: 2 dan 4).

Manusia taqwa akan memiliki firasat yang tajam, mata hati yang peka dan sensitif sehingga dengan mudah mampu membedakan mana yang hak dan mana pula yang batil.
(QS. Al-Anfaal : 29). Mata hati manusia taqwa adalah mata hati yang bersih yang tidak terkotori dosa-dosa dan maksiat, karenanya akan gampang baginya untuk masuk surga yang memiliki luas seluas langit dan bumi yang Allah peruntukkan untuk orang-orang yang bertaqwa (QS. Ali Imran: 133 dan Al-Baqarah: 211). 

Taqwa yang terhimpun dalam individu-individu ini akan melahirkan keamanan dalam masyarakat. Masyarakat akan merasa tenteram dengan kehadiran mereka. Sebaliknya pupusnya taqwa akan menimbulkan sisi negatif yang demikian parah dan melelahkan. Umat ini akan lemah dan selalu dilemahkan, akan menyebar penyakit moral dan penyakit hati. Kezhaliman akan merajalela, adzab akan banyak menimpa. Masyarakat akan terampas rasa aman dan kenikmatan hidupnya. Masyarakat akan terenggut keadilannya, masyarakat akan hilang hak-haknya.

Semakin taqwa seseorang -baik dalam tataran individu, sosial, politik, budaya, ekonomi- maka akan lahir pula keamanan dan ketenteraman, akan semakin marak keadilan, akan semakin menyebar kedamaian. Taqwa akan melahirkan individu dan masyarakat yang memiliki kepekaaan Ilahi yang memantulkan sifat-sifat Rabbani dan insani pada dirinya.
Samson Rahman, MA
 
 
IKADI KEC NGUTER KAB SUKOHARJO
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316

Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin



Toko Busana Keluarga Muslim
GRIYA HILFAAZ 
Toko Busana Keluarga Muslim

Khutbah Jum'at : Mencari Pemimpin Yang Adil


Khutbah Jum'at : Mencari Pemimpin Yang Adil 





Hari ini kita akan membincang topik yang menjadi kepentingan kita bersama buat kemaslahatan hidup berbangsa dan bernegara di masa mendatang. Topik itu adalah tentang kepemimpinan yang didambakan dan peran kita dalam mewujudkannya.

Pemimpin dalam sebuah negeri memegang peranan penting dalam menentukan kendali hidup berbangsa. Pemimpin yang baik akan mengajak ummatnya berbuat baik dan memberikan contoh yang baik buat rakyatnya. Sebaliknya, pemimpin yang tidak baik, paling minimal tidak akan peduli dengan kebaikan, atau bahkan memusuhi kebaikan, dan dia sendiri secara langsung atau tidak langsung akan menjadi panutan tidak baik bagi rakyatnya. Dalam konteks inilah mengapa kita selaku rakyat biasa memiliki kepentingan untuk ikut berbicara tentang kepemimpinan.

Tentang kepemimpinan ideal dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan rakyatnya, Rasulullah saw bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ :
1- إِمَامٌ عَادِلٌ 
2- وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ 
3- وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ 
4- وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ 
5- وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ 
6- وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ 
7- وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاه (رواه البخاري)

Dari Abi Hurairah, dari Nabi saw bersabda : “ Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada tempat bernaung kecuali dengan naungan-Nya :

1. Pemimpin yang adil
2. Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya
3. Seseorang yang hatinya selalu tertambat dengan masjid
4. Dua orang yang saling mencinta karena Allah; mereka bertemu dan berpisah hanya karena-Nya.
5. Seorang laki-laki yang diajak (berbuat mesum) oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan lagi cantik, lalu laki-laki tersebut menolak dan berkata: "saya takut kepada Allah" 
6. Seseorang mengeluarkan sedekah secara sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.
7. Seseorang yang berdzikir kepada Allah dengan menyendiri, lalu air matanya mengucur.
Hadits di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa pemimpin yang harus kita cari adalah pemimpin yang adil, yang dalam Al Qur’an dicirikan sebagai pemimpin yang shaleh, memiliki ketangguhan fisik, keluasan ilmu, bekerja profesional dan amanah. Allah swt berfirman :

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (الأنبياء : 105)
“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur (seluruh kitab yang diturunkan kepada nabi-Nya), sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shaleh” (Al Anbiya’ : 105)

Allah berfirman :
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (البقرة : 247)
Nabi mereka mengatakan kepada mereka : “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab : “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata : “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah : 247)

Dengan kriteria di atas, diharapkan mereka mampu menjalankan program-program sebagai berikut :

a. Mampu menegakkan keadilan terhadap rakyat, tidak mendzalimi mereka
b. Menyebarkan rasa aman dan damai
c. Menyediakan kebutuhan hajat hidup orang banyak
d. Memanfaatkan potensi SDA untuk kesejahteraan rakyat

Terpilihnya pemimpin yang adil menurut hadits di atas akan membawa dampak positif buat rakyatnya. Suasana masyarakat yang tercipta bersama pemimpin yang adil menurut hadits di atas antara lain :

1. Tumbuhnya generasi muda dalam lingkungan ibadah. Dalam hadits di atas disebutkan : وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّه ( Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya ). Para pemudanya terpacu untuk melakukan hal-hal produktif dengan orientasi ibadah. Negara tidak dibuat pusing karena banyaknya pelajar yang tawuran, mabuk-mabukkan, narkoba, dan perbuatan negatif lainnya. Kalau pemimpin lemah maka akan mudah pihak asing memasukkan narkoba ke Indonesia. memasukkan segala budaya asing yang buruk ke Indonesia. Ini yang akan merusak generasi kita mendatang menjadi generasi yang lemah dan malas ibadah.

2. Menciptakan masyarakat yang cinta masjid (وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ )
Pemimpin yang adil mendorong rakyatnya untuk menjadikan masjid sebagai sentra kegiatan. Di sana mereka mengkaji ayat-ayat Allah untuk mereka implementasikan buat memakmurkan bumi. Mereka tidak menghabiskan waktu mereka di kafe-kafe, klub malam dan sebagainya. Bukan malah menuduh masjid sebagai penyebar terorisme, penyebar kebencian sesama warga negara. Bahkan khutbah di masjid dilarang membahas kepemimpinan atau politik, padahal Islam itu syumul dan mengatur segala hal termasuk dalam hal memilih pemimpin.

3. Terbinanya hubungan sosial yang berlandaskan prinsip saling mahabbah, (cinta);
( وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ )
Dalam Islam hubungan antar masyarakat diukur dengan kedekatan atau jauhnya seseorang dengan Allah swt. Maka seorang muslim harus mencintai kerabatnya karena kerabatnya mencintai Allah dan menaati perintah-Nya. Dan dia tidak boleh mendukung sahabatnya jika mereka tidak menaati perintah Allah. Hidup masyarakat muslim bukan berprinsip kepada slogan oportunis; ada uang abang disayang, tidak ada uang abang melayang. Prinsip oportunis ini akan membuat orang selalu terinspirasi untuk mengumpulkan uang dengan cara apapun demi mendapatkan kehormatan di tengah masyarakatnya. Sekarang masyarakat kita terpecah belah dan saling curiga. Ulama dan habaib semakin tidak di hormati. Fatwa-fatwa dan anjurannya disepelakan. Maka pentingnya pemimpin yang adil dalam segala hal.

4. Terciptanya masyarakat anti pornografi 
) وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ )
Pemimpin yang adil peduli dengan moral anak bangsanya. Di antara agenda pemimpin yang adil yang diisyaratkan oleh Rasulullah adalah menata hubungan antar lawan jenis sesuai syariat; dan menolak setiap tindakan yang dapat mengundang kepada perbuatan zina. Pornografi, pornoaksi dan seks bebas adalah di antara PR besar pemimpin kita ke depan. Pornografi sekarang mudah diakses sehingga banyak anak-anak kita yang masih SD pun sudah kecanduan pornografi. Coba bapak sesekali cek hp anak-anaknya.

5. Terciptanya masyarakat yang suka berkorban dan empati terhadap yang lemah 
)وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُه )
Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang mau berkorban buat kemaslahaan bangsanya. Pemimpin seperti ini pasti akan diikuti oleh rakyatnya. Mereka pasti rela berkorban untuk kemaslahatan bersama. Tetapi jika pemimpin hanya berkorban dalam jargon, maka masyarakat akan bersikap sinis dan apatis. Kita lihat korban korban dari perusahaan yang meracuni masyarakat dan membuang limbah sembarangan, ketika kita mengadu ke masyarakat apakah ada bantuan yang riil dari pemerintah daerah maupun pusat.

6. Terciptanya masyarakat yang gemar beribadah dalam keheningan
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاه
Masyarakat bersih, yang saling mencinta hanya karena Allah, menjadikan masjid sebagai sentra kegiatan, menolak pornografi, dan suka berinfaq akan membuat hati mereka bersih, mudah menyimak dan menyerap pesan-pesan Allah, sehingga mata mereka mudah mengucurkan air mata. Sebaliknya lingkungan yang kotor akan berdampak kepada hati, sehingga menjadi keras dan susah mengeluarkan air mata.
Mudah-mudahan pilkada dan pemilu kelak dapat kita jadikan ajang untuk beribadah buat memilih pemimpin yang mendekati kriteria yang diisyaratkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya, suara kita harus kita jatuhkan kepada sasaran yang tepat



IKADI KEC NGUTER KAB SUKOHARJO 
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo 
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316 

Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter 
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com 
💈IG : @ikadi_nguter 
💈Telegram : @ikadi_nguter 
💈Fb.: Tausiyah Singkat 
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin 


Toko Busana Keluarga Muslim
GRIYA HILFAAZ 
Toko Busana Keluarga Muslim