Usaha; Antara Maksiat dan Syirik


Usaha; Antara Maksiat dan Syirik



Tulisan ini adalah satu diantara pesan yang dulu pernah di sampaikan di kelas oleh dosen asli Mesir; Dr. Yaser Hamouda, seorang dosen Tafsir di kampus LIPIA Jakarta.
***
Sambil mengangkat kedua tangannya, pemuda itu berdo’a: “ Ya Rabbi, dengan penuh ketundukan dan kepasrahan, hamba bermunajat agar diaugerahkan keturunan yang sholih dan sholihah.. Ya Rabbi.. Engkau Maha segalanya, padaMulah hamba bermunajat..”
Pemuda itu selalu saja mendo’akanya, hingga akhirnya secara tidak sengaja munajat do’a itu didengar oleh seorang alim di negri itu.
Syaikh: “Saya turut mengaminkan apa yang Anda do’akan, wahai pemuda. Semoga Allah memberikan taufiqNya, dan mengabulkan do’a Anda, dianugerahi keturunan yang sholih dan sholihah”
Pemuda: “Syukron ya syaikh, terima kasih banyak sudah mengaminkan, semoga Allah lekas mengabulkan”
Syaikh: “Kalau boleh tahu Anda sudah berapa menikah, Akhi?” Tanya syaikh penuh perhatian.
Pemuda: “Heemm… Saya bahkan belum menikah ya syaikh” Tutur pemuda
Syaikh: @ # $ % * * # 3 3 3 3 !! ??? :-D
***
Menyerahkan semuanya kepada Allah itu memang sebuah keniscayaan. Allah Maha Pemilik segalanya. Dan bahkan apa yang terjadi dalam kehidupan ini sudah ada dalam ilmuNya, serta sudah dituliskan di lauhil mahfuzh sana lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.
Hanya saja mengambil sebab (fi’l al-asbab) mutlak adanya. Kita menyebutnya dengan ikhtiyar (Usaha), dan bahkan meninggalkan sebab dianggap sebagai sebuah kemaksiatan, walaupun menyandarkan hasil hanya kepada sebab saja satu dari perilaku kesyirikan.
Dianggap bermaksiat kepada Allah, karena memang dalam prakteknya Allah memerintahkan kita untuk mengambil sebab; makan biar kenyang, minum agar lega, menikah untuk memperoleh keturunan, bekerja untuk mencukupi kebutuhan harian, berobat agar penyakit hilang, belajar agar tahu, dan seterusnya.
Dianggap sebagai sebuah kesyirikan, karena memang kenyang, lega, memperoleh keturunan, terpenuhi hajat harian, sembuh dari penyakit, pengetahuan, dan seterusnya tidaklah dengan serta merta hadir karena adanya sebab saja, semua atas izin Allah. Ini titik yang paling penting.
Dari sini, maka kaidahnya adalah usaha yang bertemu dengan kehendak Allah itulah takdir kita, begitu dengan sederhana para ulama mengajarkan tetang konsep qodho dan qodarnya Allah.
Dan pastikan Allah tidak akan pernah menzholimi hambaNya dengan apa yang sudah Allah takdirkan untuk kita. Bahkan sebagian pendahulu kita pernah berujar: “Jika memang ada ahli ibadah yang masuk neraka, itu bukan ketidakadilan, dan sebaliknya jika memang ada pelaku dosa justru masuk syurga, itu juga bukan sebuah kezholiman”.
Allah Maha Tahu atas segalanya, dan keadilan Allah tidak akan pernah menzholimi hambaNya. Ada sisi yang tidak kita ketahui yang ditutup oleh tabirNya, agar rasa takut dan harap itu selalu ada dalam jiwa.
Selagi semuanya tertutup, maka sudah seharusnya kita bekerja keras disini sebagai sebuah ketaan dengan mengambil sebabnya, sambil berdoa kepada Dia pemilik segala sesuatu, harap- harap cemas bahwa apa yang diusahan memang milik kita. Bisa!
Pijakkan kaki sekuatnya di bumi, dan ikhlaskan hasilnya dengan apa sudah dituliskan di langit.
@SaiyidMahadhir-



EmoticonEmoticon