Khutbah Jumat : Larangan Menjadikan Orang Kafir sebagai Teman Dekat, Pelindung, Kekasih


Larangan Menjadikan Orang Kafir sebagai Teman Dekat, Pelindung, Kekasih 


Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى، وَرَاقِبُوْهُ سُبْحَانَهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.


Jama'ah Sholat Jumat yang dirahmati Allah.
Akhir akhir ini kita umat Islam di cederai dengan pernyataan seorang pemimpin daerah yang mengatakan bahwa (umat islam) dibohongi dengan al Maidah 51. Ada banyak kelompok yang merasa tersinggung dengan denga ucapan ini, mereka berdemo menuntut dihukumnya orang tersebut. Ada juga yang membela mati-matian dengan menggunakan berbagai dalil. Bagi sebagian umat islam tentu akan membuat kita bingung mana yang paling benar diantara mereka.

Al Qur'an adalah huda/petunjuk bagi umat islam. Allah menurunkan al quran agar menjadi pedoman hidup/minhajul hayah. Sehingga menjadi kewajiban untuk memahami al qur'an. Maka disinilah perlunya pemahaman tafsir al qur'an. Perlunya tiap pribadi belajar tafsir, membaca kitab tafsir yang menurut pemahaman salafus sholeh. Belajarlah kitab klasik seperti tafsir ibnu katsir, tafsir jalalain, tafsir al qurtuby, tafsir at thabari. Jangan belajar pada kitab tafsir kontemporer seperti yang ditulis orang yang mengaku ahli quran tetapi diapun tidak hapal atau tidak memenuhi kriteria orang yang boleh menafsirkan al quran.

Yang terjadi saat ini telah banyak kita lihat kaum muslimin dengan gampangnya mengambil satu ayat al-qur'an dari al-qur'an terjemahan, kemudian menafsirkan ayat tersebut berdasarkan akal dan perasaannya. Ini adalah penyimpangan yang sangat besar, karena dalam menafsirkan al-qur'an dibutuhkan kaedah-kaedah tertentu, belum lagi harus terpenuhinya syarat-syarat yang dapat menjadikannya mufassir (orang yang menafsirkan al-qur'an).

Kaidah yang digunakan para ulama tafsir dalam menafsirkan al qur'an adalah:
1.       Dengan menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an karena disebutkan dalam suatu ayat secara global namun telah dirinci penjelasannya dalam ayat yang lain.
2.       Carilah di dalam sunnah karena ia adalah penjelasan Al Qur’an
3.       Kita merujuk pendapat para shahabat karena mereka lebih mengetahui tentang tafsirnya sebab mereka langsung menyaksikan keadaan-keadaan yang hanya mereka yang mengetahuinya dan juga mereka amalkan, juga karena mereka mempunyai pemahaman yang sempurna, ilmu yang lurus, dan amal shalih terutama para ulama mereka
4.       Banyak ulama yang merujuk pendapat Tabi’in
Adapun menafsirkan Al Qur’an hanya dengan ro’yu semata maka hukumnya adalah haram.”

Jama'ah Sholat Jumat yang dirahmati Allah.
Alhamdulillah kejadian penghinaan pemimpin tadi mengingatkan kita ternyata selama ini kita lewat mempelajari makna dari al qur'an terutama al Maidah 51. Sebagai umat islam wajib kita paham bagaimana maksud dari surat al Maidah 51
Mari kita mulai dari ayat ini,
أَيُّهَا    الَّذِينَ    ءَامَنُوا۟    لَا    تَتَّخِذُوا۟    الْيَهُودَ    وَالنَّصٰرَىٰٓ    أَوْلِيَآءَ    ۘ    بَعْضُهُمْ    أَوْلِيَآءُ    بَعْضٍ    ۚ    وَمَن    يَتَوَلَّهُم    مِّنكُمْ    فَإِنَّهُۥ    مِنْهُمْ    ۗ    إِنَّ    اللّٰـهَ    لَا    يَهْدِى    الْقَوْمَ    الظّٰلِمِينَ    ﴿المائدة:٥١﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Al-Maidah Ayat 51

Makna awliya   أَوْلِيَآءَ    :
Para ulama menafsirkan awliya (wali-wali) tidak hanya menafsirkan bukan hanya makna pemimpin saja.
Tetapi berbagai kehidupan dilarang menjadikan Yahudi dan Nashara sebagai Nashir, ash shadiq, alhabib(pelindung/pemimpin, teman  akrab,kekasih) baik  dalam dalam masalah kehidupan dunia,  agama maupun kehidupan akhirat. Ternyata ayat ini bermakna lebih dalam bukan hanya dalam memilih pemimpin saja, bahkan dalam teman dekatpun dilarang.
Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar mencari teman dari yang beriman. Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِىٌّ
“Janganlah bersahabat kecuali dengan orang beriman. Janganlah yang memakan makananmu melainkan orang bertakwa.” (HR. Abu Daud no. 4832 dan Tirmidzi no. 2395. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Maka sudah jelas kita dilarang berhubungan dekat, bahkan sampai cinta dan senang dalam kehidupan sehari-hari apalagi menjadikan pemimpin. Maka akan kita lihat sebagian orang membela mati matian membela orang yahudi dan nashara. Orang yang hati mereka penyakit, yakni penyakit kemunafikan, selalu  mendekati Yahudi dan Nasrani dan kaum  kafir lainnya karena khawatir mendapat  kesulitan bersama Rasulullah saw. dan  kaum mukmin. Mereka tidak mengerti  bahwa Allah akan memberikan kemenangan kepada Rasul saw. dan kaum  mukmin, atau keputusan lain. Mereka  akan menyesali apa yang mereka sembunyikan. Ini bisa kita lihat ayat selanjutnya al Maidah 52.




 فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.

Subhanallah, ada tidak orang-orang nampak mendekati mereka? Membela mereka, menyayangi mereka, Allah sebut didalam hati mereka ada penyakit. Penyakit apa itu urusan Allah, kenapa mereka memihak, memilih, bersandar kesitu? Allah juga cerita, karena takut bencana. Karena yang memiliki kuasa ekonomi mereka, yang memiliki media mereka, mereka mungkin lagi memimpin dan banyak uang. Naudzubillah min dzalik.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى .

Jama'ah Sholat Jumat yang dirahmati Allah.
Dari riwayat dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu dalam kitab tafsir Ibnu Katsir.  Dari Sammak bin Harb, dari Iyadh,

أن عمر أمر أبا موسى الأشعري أن يرفع إليه ما أخذ وما أعطى في أديم واحد، وكان له كاتب نصراني، فرفع إليه ذلك، فعجب عمر رضي الله عنه وقال: إن هذا لحفيظ، هل أنت قارئ لنا كتابًا في المسجد جاء من الشام؟ فقال: إنه لا يستطيع أن يدخل المسجد فقال عمر: أجُنُبٌ هو؟ قال: لا بل نصراني. قال: فانتهرني وضرب فخذي، ثم قال: أخرجوه” ثم قرأ: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ

Umar memerintahkan Abu Musa al-Asy’ari untuk melaporkan semua yang diterima dan yang diserahkan dalam satu catatan. Abu Musa memiliki juru tulis beragama nasrani. Kemudian catatan itu diserahkan. Dan Umar radhiyallahu ‘anhu terheran, beliau mengatakan, “Ini sangat rinci.” Lalu beliau meminta,

“Apakah nanti di masjid, kamu bisa membacakan untuk kami, surat yang datang dari Syam?”

Abu Musa mengatakan, “Dia tidak boleh masuk masjid?”

Tanya Umar, “Mengapa? Apakah dia junub?”

“Bukan, dia nasrani.” Jawab Abu Musa.

Umar langsung membentakku dan memukul pahaku, dan mengatakan, “Keluarkan dia.”

kemudian beliau membaca firman Allah, QS. Al-Maidah: 51

Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin.

Kaum Yahudi dan Nasrani tidak pernah senang dengan keberadaan kita umat Islam dan agama yang kita anut. Mereka baru senang jika kita memeluk dan mengikuti ajaran mereka. Kalau mereka diangkat menjadi pemimpin umat Islam, itu berarti mereka diberikan peluang untuk melaksanakan misi-misi mereka, yaitu menghancurkan akidah umat Islam dan menjadikan kita penganut-penganut agama mereka. Seperti kita dijajah belanda mereka datang bersama para missionarisnya untuk memurtadkan kita.

Kalau diperhatikan, kalimat “Ya ayyuha allazina amanu” (wahai orang-orang yang beriman) sering digunakan dalam Al-Quran, lalu diikuti dengan bermacam-macam seruan kepada kebaikan (jihad). Ini mengindikasikan pentingnya keimanan dalam kehidupan umat manusia. Hidup tidak akan berarti tanpa adanya iman dan jihad. Jihad seorang mukmin adalah mengajak, mengarahkan, menuntun manusia kepada kebaikan dan mencegah, membela, menghindarkan mereka dari kemungkaran.

إِلَهَنَا وَرَبَّنَا وَرَجَاءَنَا وَسَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا وَنَصِيْرَنَا وَمُعِيْنَنَا؛ اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ،  اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فِلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِراً وَمُعِيْنًا وَحَافِظاً وَمُؤَيِّدًا، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ وَلَا تُعِنْ عَلَيْهِمْ، وَامْكُرْ لَهُمْ وَلَا تُمْكِرْ عَلَيْهِمْ، وَانْصُرْهُمْ وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْهِمْ، وَاهْدِهِمْ وَيَسِّرِ الهُدَى لَهُمْ، اَللَّهُمَّ وَانْصُرْهُمْ عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْهِمْ، اَللَّهُمَّ وَانْصُرْهُمْ عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْهِمْ، اَللَّهُمَّ وَانْصُرْهُمْ عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْهِمْ. اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُوْدِ المُعْتَدِيْنَ المُجْرِمِيْنَ الغَاصِبِيْنَ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِهِمْ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ. اَللَّهُمَّ مُنْزِلَ الكِتَابِ مُجْرِيَ السَحَابِ سَرِيْعَ الحِسَابِ هَازِمَ الأَحْزَابِ اِهْزِمْ اليَهُوْدَ وَزُلْزِلْهُمْ، اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ، اَللَّهُمَّ أَلِّقِ الرُعْبَ فِي قُلُوْبِهِمْ اَللَّهُمَّ اجْعَلْ عَلَيْهِمْ دَائِرَةَ السَوْءِ إِلَهَ الحَقِّ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْ تَدْمِيْرَهُمْ تَدْبِيْرَهُمْ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ. اَللَّهُمَّ قَاتِلِ الكُفْرَةَ الَّذِيْ يَصُدُّوْنَ عَنْ دِيْنِكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ وَيَكْذِبُوْنَ رُسُلَكَ، اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ إِلَهُ الحَقِّ.

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ قَادَةَ المُسْلِمِيْنَ إِلَى مَا فِيْهِ عِزُّ الإِسْلَامِ وَالمُسْلِمِيْنَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا كُلَّهَا دِقَّهَا وَجِلَّهَا أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا سِرَّهَا وَعَلَنَهَا، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ وَأَنْعَمَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Abu Ikmal

Related search
hukum memilih pemimpin kafir dalam islam
pemimpin kafir yang adil lebih baik
asbabun nuzul al maidah 51
haram memilih pemimpin kafir
arti kata aulia dalam al quran
arti auliya
ali imran 28
maksud awliya
memilih pemimpin menurut islam
hadits tentang memilih pemimpin
ayat alquran tentang pemimpin yang baik
pemimpin kafir yang adil lebih baik
haram memilih pemimpin kafir
ayat alquran tentang memilih pemimpin
ayat alquran tentang pemimpin yang amanah
hukum memilih pemimpin menurut islam


EmoticonEmoticon